:: SELAMAT DATANG DI BALAI BESAR PELATIHAN KESEHATAN (BBPK) MAKASSAR :: PENYELENGGARA DIKLAT BIDANG KESEHATAN BERKUALITAS SEBAGAI RUJUKAN DI INDONESIA TIMUR :: PELATIHAN ASUHAN IBU HAMIL (ANC TERPADU) DAN KELUARGA SEHAT YANG MENJADI PROGRAM UNGGULAN BALAI BESAR PELATIHAN KESEHATAN DI TAHUN 2017 ::

Sarana dan Prasarana

Jumlah Kunjungan

00415176
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Semua Hari
1008
1089
2848
385224
18477
42084
415176

Your IP: 54.92.170.149
2018-07-17 13:19

Enumerator

PELATIHAN ENUMERATOR SURVEI KESEHATAN GIGI DAN MULUT

TERINTEGRASI RISKESDAS 2018

     PENDAHULUAN

Berdasarkan World Health Assembly 60.17 tahun 2007 dan pendekatan riset WHOSTEPSwise, maka survai dasar kesehatan gigi dan mulut harus terintegrasi kedalam Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas).1,2) Riskesdas merupakan survei berkala untuk memantau indikator kesehatan masyarakat. Hasil Riskesdas 2007,2010 dan 2013 telah dimanfaatkan untuk perumusan kebijakan kesehatan di tingkat Pusat, Provinsi dasn Kabupaten/Kota. Riskesdas 2007 dan 2013 menghasilkan Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) untuk menilai disparitas pembangunan kesehatan tingkat kabupaten/kota. Perubahan IPKM merupakan salah satu ukuran keberhasilan pembangunan kesehatan.3)

Riskesdas 2018 akan diselenggarakan dengan tujuan untuk : (1) menilai perubahan IPKM hasil pembangunan kesehatan tingkat kabupaten/kota; (2) menilai perubahan indikator risiko terhadap derajat kesehatan tingkat Nasional, Provinsi dan kabupaten kota serta ; (3) menilai perubahan indikator terkait derajat kesehatan tingkat Nasional, Provinsi dan Kabupaten/Kota.3)

Kesehatan gigi dan mulut merupakan salah indikator program kesehatan yang perlu dinilai.  Namun, terbatasnya data status kesehatan gigi dan mulut dan kebutuhan perawatan merupakan suatu permasalahan kesehatan gigi dan mulut masyarakat di Indonesia.  Data dan informasi status kesehatan gigi dan mulut  pada berbagai kelompok umur sangat diperlukan guna mendukung  kebijakan dan program kesehatan gigi dan mulut.4)

Data status kesehatan gigi dan mulut pada berbagai kelompok umur yang saat ini dimiliki adalah data status kesehatan gigi dan mulut berdasarkan Riskesdas 2013. Data status kesehatan gigi dan mulut terbaru didapat dari hasil penelitian IPKESGIMI-PB PBGI, namun data tersebut hanya untuk kelompok umur 5-6 dan 12 tahun. Berdasarkan hasil penelitian IPKESGIMI-PB PDGI tahun 2015-2016, diperoleh informasi bahwa data status kesehatan gigi dan mulut pada kelompok umur 12 tahun sebagai indikator kesehatan gigi dan mulut nasional menunjukkan Indeks DMF-T sebesar 1,5.  Hanya 42.3% (N=707) dari anak usia 12 tahun yang bebas dari karies gigi permanen dan terdapat 254 anak (15.2%) yang memiliki DMFT> 3. Adapun target Indonesia Bebas Karies 2020 yang telah ditetapkan Kemenkes (2015) adalah indeks DMF-T pada anak umur 12 tahun adalah kurang dari 1. Indeks DMF-T pada anak umur 12 tahun berdasarkan Riskesdas 2013 adalah sebesar  1,025)

Berdasarkan The Sixtieth World Health Assembly (WHA 60.17) tahun 2007 tentang Oral Health : Action Plan for Promotion and Integrated Disease Prevention, Sidang WHA ke-60 meminta kepada negara-negara anggota untuk mengintegrasikan sistem informasi kesehatan gigi dan mulut kedalam surveilans kesehatan serta memperkuat upaya-upaya pengembangan riset kesehatan gigi dan mulut. 1)

Survei dasar kesehatan gigi dan mulut adalah survai untuk mengumpulkan data dan informasi dasar tentang masalah, kelainan atau penyakit yang ditemukan pada gigi dan mulut. Survei dasar kesehatan gigi dan mulut merupakan  survai untuk mengumpulkan data dan informasi dasar tentang kelainan atau penyakit yang ditemukan pada gigi dan mulut melalui suatu pemeriksaan klinis dan pengisian angket. 6)

Survey dasar kesehatan gigi dan mulut dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang status kesehatan gigi dan mulut dan kebutuhan perawatan pada masyarakat sehingga dapat memonitor perubahan pada tingkat dan pola penyebaran penyakit. Selain itu, survey dasar kesehatan gigi dan mulut dapat digunakan  untuk menilai ketepatan dan keefektifan pelayanan yang tersedia dan untuk merencanakan atau memodifikasi pelayanan kesehatan gigi dan mulut dan untuk merancang suatu program pelatihan yang dibutuhkan.6)

Data kesehatan gigi dan mulut sangat diperlukan untuk mengevaluasi perkembangan penyakit gigi dan mulut pada saat ini dan memperkirakan kebutuhan masyarakat umumnya pada masa mendatang serta untuk penyusunan program kesehatan gigi dan mulut secara nasional maupun regional agar pelayanan dalam bidang kesehatan gigi dan mulut terlaksana lebih efektif dan efisien. Data kebutuhan perawatan sangat bernilai di tingkat regional maupun nasional karena data tersebut merupakan dasar untuk memperkirakan biaya dari program kesehatan gigi dan mulut sehingga permintaan terhadap kebutuhan perawatan dapat disediakan.4)

Pengukuran status kesehatan gigi-mulut pertama kali dikeluarkan WHO pada tahun 1971 dengan menggunakan acuan WHO Basic Oral Health Survei Method atau Survei Dasar Kesehatan Gigi-Mulut WHOyang kemudian direvisi pada tahun 1977, 1987, 1997, dan 2004.Pada tahun 2001, WHO mengeluarkan the STEPwise approach to surveillance (STEPS) untuk melakukan survailans kesehatan.4) Sistem survailans dengan pendekatan STEPS merupakan survailans yang memasukkan komponen faktor risikoPendekatan STEPS terdiri atas 3 steps atau langkah.2) Steps 1 : mengumpulkan informasi yang diperoleh melalui kuesioner. Kuesioner meliputi status sosial ekonomi, data mengenai konsumsi rokok dan alkohol, konsumsiizi dan aktivitas fisik.Steps2 : pengukuran status fisik sederhana seperti tekanan darah, tinggi dan berat badan.Steps3 : pengukuran biomedis misalnya pengukuran kadar gula

Hasil survey dasar kesehatan gigi dan mulut  akan menghasilkan luaran berupa data dan informasi yang lengkap tentang status kesehatan gigi dan mulut. Hasil survey pada akhirnya dapat digunakan oleh banyak pihak sebagai dasar perencanaan dan evaluasi program kesehatan gigi dan mulut masyarakat.4)

Survei dasar kesehatan gigi-mulut memberikan estimasi tentang status kesehatan gigi dan mulut penduduk  sekarang dan kebutuhan masa depan untuk perawatan kesehatan gigi dan mulut. Survei ini menghasilkan data awal yang dapat diandalkan untuk kepentingan pembangunan nasional atau program regional kesehatan gigi-mulut serta perencanaan perawatan gigi-mulut individu dan masyarakat.4)

Metode survei dasar kesehatan gigi dan mulut mengacu kepada metodologi Riskesdas dengan menggunakan  Blok Sensus sebagai dasar pemilihan sampel. Pelaksanaan pengumpulan data pada sampel diintegrasikan ke dalam pemeriksaan biomedis Riskesdas.

Setiap  anggota tim yang bekerja sebagai pengumpul data survei harus mampu melakukan pemeriksaan gigi dan mulut  pada sampel secara konsisten. Apabila dalam survei dasar kesehatan gigi melibatkan banyak anggota tim sebagai pemeriksa, maka setiap pengumpul data perlu distandarisasi melalui suatu kegiatan pelatihan, dikalibrasi satu sama lain serta dikalibrasi oleh seorang “gold standard”.4)

Sebelum melakukan pengumpulan data survei, tim pengumpul data mengikuti pelatihan kalibrasi guna memastikan pengumpul data  dapat memeriksa secara konsisten, baik untuk keseragaman interpretasi, pemahaman, kriteria dari penyakit dan kondisi yang akan diobservasi serta dicatat .Walaupun para pemeriksa dapat berbeda dalam memberikan penilaian status kesehatan gigi dan mulut inidividu, mereka harus mendekati satu sama lainnya dalam menilai status suatu kelompok masyarakat.  Bilamana suatu survei epidemiologi dilaksanakan oleh suatu team, penting sekali agar para pemeriksa dilatih agar dapat melakukan penilaian secara konsisten.Beberapa faktor yang mempengaruhi penilaian dari satu pemeriksa dengan pemeriksa lainnya adalah faktor fisik dan psikologis seperti keletihan, perbedaan ketertarikan dalam penelitian, sulit mengambil keputusan serta variasi dalam penglihatan dan perabaan.Faktor tersebut dapat mempengaruhi penilaian dari waktu ke waktu sampai pada tingkat yang berbeda-beda.4)

Para pengumpul data tersebut (enumerator) akan dilatih dalam suatu pelatihan Enumerator terstandar yang akan diampu oleh pelatih nasional yang akan mengikuti TOT. Pelatihan enumerator adalah pelatihan yang diselenggarakan oleh PPSDM (Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan) sebagai pelatihan mengkalibrasi keterampilan enumerator dalam melakukan pemeriksaan gigi mulut dalam kegiatan Riskesdas 2018.

Untuk menunjang pelatihan enumerator yang terstandar, diperlukan suatu Kurikulum Pelatihan  Enumerator Survei Kesehatan Gigi dan Mulut Terintegrasi riskesdas 2018.  Kurikulum ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam penyelenggaraan pelatihan secara nasional,  acuan bagi para narasumber dalam memberikan materi dan acuan dalam melakukan proses evaluasi kegiatan pelatihan.

 

     TUJUAN UMUM

Setelah mengikuti pelatihan ini peserta mampu melakukan peran dan fungsi sebagai enumerator Riskesdas-Gigi dan Mulut.

TUJUAN KHUSUS

Setelah mengikuti pelatihan, peserta mampu   :

  1. Menjelaskan konsep dasar Riskesdas Kesgilut 2018
  2. Menjelaskan metodologi dan sampling yang digunakan dalam Riskesdas-Gigi dan Mulut
  3. Menjelaskan struktur organisasi survei, pengaturan SDM  dan alur kegiatan
  4. Menjelaskan dasar-dasar pemeriksaan klinis gigi dan mulut menggunakan form WHO yang telah dimodifikasi
  5. Melakukan kalibrasi pemeriksa dengan menggunakan 3 metode : gambar dalam slide, model gigi, dan pasien standar
  6. Menjelaskan konsep integrasi pemeriksaan gigi dengan pemeriksaan biomedis
  7. Menjelaskan manajemen data dan rencana aplikasi dental record
  8. Melakukanpemeriksaangigidanperhitungankesesuaian/kesepakatan

       PESERTA DAN PELATIH / FASILITATOR

       Peserta

Kriteria

          Peserta Pelatihan Enumerator  adalah dokter Gigi yang telah ditetapkan/ditunjuk oleh Persatuan Dokter Gigi Indonesia bersama dengan Litbangkes Kementerian Kesehatan.

Jumlah peserta pelatihan 30 orang / Kelas

  1. Pelatih /Fasilitator.

Kriteria pelatih / Fasilitator:

  1. Sudah mengikuti TOT Riskesdas Gigi dan Mulut
  2. Sudah mengikuti Uji coba Lapangan dalam Riskesdas, 2017
  3. Dokter Gigi/Pengajar dari IPDG yang menguasai substansi dan kegiatan berdasarkanWHO Oral Health Surveys-Basic Methods,
  4. Memahami kurikulum pelatihan Enumerator Riskesdas – Kesehatan Gigi dan Mulut.

        METODE

Pelatihan an  ini dilaksanakan dengan menggunakan metode ceramah, tanya jawab, diskusi kelompok, curah pendapat (brain storming), simulasi dan praktek di kelas.

        PENYELENGGARA

Pelatihan ini diselenggarakan oleh Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Makassar.

 

WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN

  Waktu Pelatihan

Pelatihan Angkatan I s.d. IV akan dilaksanakan pada tgl. 12 – 15 Maret 2018 dan Angkatan V s.d. VIII tgl. 19 s.d. 22 Maret 2018, 4 (Empat) hari efektif dengan jumlah jam pelatihan sebanyak 34 (Tiga Puluh Empat) JPL.

Tempat Pelatihan

Penyelenggaraan Pelatihan bertempat di Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Makassar dengan alamat : Jalan Moha No. 59, Antang Makassar

       PEMBIAYAAN

Sumber pembiayaan penyelenggaraan Pelatihan ini adalah DIPA BBPK Makassar 2018.

Enum

 

Search :

Ruang Chating

Sambutan Ka. BBPK

Log-in

Siapa Yang On-Line

We have 31 guests and no members online