:: SELAMAT DATANG DI BALAI BESAR PELATIHAN KESEHATAN (BBPK) MAKASSAR :: PENYELENGGARA DIKLAT BIDANG KESEHATAN BERKUALITAS SEBAGAI RUJUKAN DI INDONESIA TIMUR :: PELATIHAN ASUHAN IBU HAMIL (ANC TERPADU) DAN KELUARGA SEHAT YANG MENJADI PROGRAM UNGGULAN BALAI BESAR PELATIHAN KESEHATAN DI TAHUN 2017 ::

Sarana dan Prasarana

Jumlah Kunjungan

00035680
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Semua Hari
154
1505
2632
4969
15660
0
35680

Your IP: 54.81.73.2
2017-10-24 02:07

PENGARUH PEMBERIAN MP-ASI BARUASA TERHADAP PENINGKATAN BERAT BADAN ANAK USIA 12- 23 BULAN

PENGARUH PEMBERIAN MP-ASI BARUASA
TERHADAP PENINGKATAN BERAT BADAN ANAK USIA 12- 23 BULAN
DI PUSKESMAS BULUROKENG KECAMATAN BIRINGKANAYA KOTA MAKASSAR TAHUN 2016

oleh

SANTI ANWAR

PENDAHULUAN

Secara global diperkirakan secara langsung atau tidak langsung, setidaknya 35% dari kematian pada anak-anak terjadi pada usia Balita. Lebih dari dua pertiga dari kematian ini, sering dikaitkan dengan praktik pemberian makan yang tidak sesuai, yang terjadi dalam tahun pertama kehidupan (Yalew, 2014).

World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa 2 miliar orang mengalami malnutrisi mikronutrien, 161 juta anak-anak di bawah usia 5 tahun mengalami Stunting, 51 juta mengalami wasting, dan 42 juta kelebihan berat badan (Hawkes et al., 2015). Malnutrisi dapat menghambat jutaan anak untuk mencapai potensi intelektual dan produktivitasnya. Malnutrisi juga menyebabkan anak-anak menjadi lebih rentan terhadap penyakit, danmenghasilkan efek jangka panjang terhadap pertumbuhan, perkembangan dan kesehatan anak-anak (Ismail & Suffla, 2013).

 

 

(Ismail and Suffla, 2013)

Data hasil riset kesehatan dasar tahun 2013 yang menunjukkan bahwa kejadian gizi buruk dan gizi kurang mengalami peningkatan dari tahun 2007 sampai 2013. Kasus gizi buruk tahun 2007 sebesar 4,5% mengalami peningkatan 5,7% dan untuk gizi kurang laporan tahun 2007 sebesar 13,0 meningkat menjadi 13,19 % tahun 2013. Dari 33 provinsi di Indonesia, Sulawesi selatan berada di urutan ke 10 prevalensi gizi kurang sebesar 26% yang melebihi angka nasional yaitu 19,6% (Riskesdas, 2013).

Usia 0-24 bulan merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang pesat sehingga kerap kali diistilahkan sebagai “periode Emas” sekaligus periode kritis, yang jika tidak dimanfaatkan dengan baik akan terjadi kerusakan yang bersifat permanen (window of opportunity). Dampak tersebut tidak hanya pada pertumbuhan fisik, tetapi juga pada perkembangan mental dan kecerdasannya, yang pada usia dewasa terlihat dari ukuran fisik yang tidak optimal serta kualitas kerja yang tidak kompetitif yang berakibat pada rendahnya produktivitas ekonomi (Septiari, 2012).

Masalah gizi tersebut muncul karena berbagai faktor salah satunya yaitu asupan gizi yang tidak adekuat. Salah satu langkah yang dapat dilakukan yaitu dengan melakukan perbaikan perilaku pengasuhan dengan pemberdayaan keluarga, cara tersebut dapat meningkatkan keterampilan keluarga dalam memberikan makanan tambahan bagi bayi, khususnya pada saat pertama kali pemberian makanan lain selain ASI mengingat pemberian makanan tambahan merupakan faktor yang sangat penting karena bayi yang tidak memilki asupan nutrisi yang cukup akan menyebabkan daya tahan tubuh menurun yang nantinya akan mudah terserang penyakit dan mengalami masalah gizi. Selain asupan zat gizi, infeksi juga ikut mempengaruhi status gizi. Kekurangan gizi secara umum menyebabkan gangguan pada proses pertumbuhan, produksi tenaga, pertahanan tubuh, perilaku, struktur dan fungsi otak (Almatsier, 2005).

Oleh karena itu perlu upaya untuk mampu mencegah terjadinya gizi kurang dengan memanfaatkan pangan lokal untuk diolah menjadi makanan pendamping ASI dengan mengggunakan teknologi yang sederhana, salah satunya dengan pemberian MP ASI baruasa berbasis ubi jalar ungu dan kacang hijau sebagai sumber energi dan protein serta mengandung antioksidan yang tinggi yang dapat menunjang pertumbuhan dan menjaga daya tahan tubuh anak. Hasil penelitian Pagiu (2016), bahwa kandungan gizi MP-ASI Baruasa dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan baduta. Perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui pengaruh pemberian MP-ASI Baruasa terhadap peningkatan berat badan pada anak usia 12-23 bulan.

BAHAN DAN METODE

Lokasi dan Rancangan Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada tahun 2016 di wilayah kerja Puskesmas Bulurokeng Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar. Jenis penelitian yang digunakan adalah Quasi Experimental dengan menggunakan desain Pretest Posttest Control Group.

Populasi dan Sampel

Populasi penelitian ini adalah semua Baduta usia 12-23 bulan yang terdapat di wilayah kerja Puskesmas Bulurokeng Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar.

Sampel adalah anak Baduta usia 12-23 bulan yang berdomisili di wilayah kerja Puskesmas Bulurokeng Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar yang akan masuk ke dalam kelompok perlakuan baduta gizi kurang dan kelompok kontrol adalah baduta gizi normal yang memenuhi kriteria inklusi yakni anak berusia 12 -23 bulan, Anak tidak menderita penyakit berat, Nilai Z skor -3SD s/d < -2 SD (kelompok Intervensi), Nilai Z skor -1,5 SD s/d 2 SD (kelompok Kontrol), pernah mendapatkan ASI, Berat badan lahir normal dan cukup bulan, Imunisasi lengkap, terdapat kader aktif di wilayah domisili responden, ibu baduta bersedia menjadi responden, sanggup menyediakan waktu dan mengikuti prosedur penelitian sampai selesai dengan mendantangani informed consent yang telah dikeluarkan oleh Komite Etik Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.

Metode Pengumpulan Data

Data diperoleh dari data sekunder dan primer. Data sekunder didapat dari Puskesmas Bulurokeng dan Dinas Kesehatan Kota Makassar sedangkan data primer dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner untuk memperoleh data karakteristik ibu balita, asupan makanan dan status kesehatan baduta, dan status gizi baduta. Data asupan makanan dengan menggunakan Form FFQ-semi Quantitatif untuk mengetahui kebiasaan makan yang meliputi waktu makan, jenis makanan, jenis bahan makanan, serta jumlah yang dikonsumsi selama masa penelitian. Pengukuran berat badan dilakukan dengan menggunakan timbangan injak digital untuk menimbang berat badan dengan ketelitian 0,1 kg dan tinggi badan diukur dengan menggunakan microtoise dengan ketelitian 0,1 cm.

Analisis Data

Data asupan makanan diolah dengan menggunakan Software Nutri Survey, sedangkan untuk data status gizi diolah dengan menggunakan Software Child Growth Standar WHO Antro 2005. Data karakteristik sampel diolah dengan menggunakan SPSS.Bila distribusi data normal, maka analisis data untuk mengukur pre dan post pada data berat badan baduta menggunakan repeted Anova, dan jika signifikan dilanjutkan dengan uji paired t-test. Untuk uji beda antar kelompok dilakukan dengan uji Independent sample T-test.Bila distribusi data tidak normal, maka untuk mengukur pre dan post berat badan baduta menggunakan uji Friedman, jika signifikan dilanjutkan dengan uji Wilcoxon. Untuk nalisis untuk uji beda antar kelompok dengan uji Mann-Whitney.

HASIL

Karakterstik Sampel

Tabel 1.Karakteristik Sampel

Karakteristik anak

Kelompok

intervensi

Kontrol

n = 27

n = 30

Jenis Kelamin

Laki-laki

Perempuan

15 (55,6%)

12 (44,4%)

16 (53,3%)

14 (46,7%)

Umur (bulan)

17,7 ± 3,3

17,4 ± 2,9

BB Lahir (kg)

2.9 ± 0,7

3.1 ± 0.41

PJ Lahir (cm)

46,2 ± 3,8

50,0 ± 3,0

BB Awal (kg)

8,1 ± 0,7

9.8 ± 1,0

PB Awal (cm)

74,1 ± 4,2

77,1 ± 3,9

HB awal (mmHg)

9,50 ± 1,1

9,00 ± 1,2

AnakKe-

2,4 ± 1,4

2,2 ± 1,37

Frekuensi Makan

2,8 ± 0,5

2,8± 0,4

Jumlah ART

5,3 ± 2,2

4,9 ± 1,8

Pendapatan

<   1 Juta

1 (3,7%)

1 (3,3,3%)

1 juta

3 (11,1%)

3 (10,0%)

>   1 juta

23 (85,2)

26 (86,7%)

Pekerjaan Bapak

Buruh

Pedagang

Swasta

PNS

18 (66,7%)

1 (3,7%)

8 (29,6%)

0 (0,0%)

8(26,7%)

2 (6,7%)

19 (63,3%)

1 (3,3%)

Pekerjaan Ibu

IRT

Buruh

Pedagang

Swasta

PNS

25 (92,6%)

2 (7,4%)

0 (0,0%)

0 (0,0%)

0 (0,0%)

28 (93,3%)

0 (0,0%)

1 (3,30%)

1 (3,3%)

0 (0,0%)

Pendidikan Bapak

Tidak sekolah

SD

SMP

SMA

PT

2 (7,4%)

11 (40,7%)

8 (29,6%)

5 (18,5%)

1 (3,7%)

0 (0,0%)

11 (36,7%)

3 (10,0%)

16 (53,3%)

0 (0,0%)

Pendidikan Ibu

Tidak sekolah

SD

SMP

SMA

PT

2 (7,47%)

10 (37,2%)

6 (22,2%)

4 (33,3%)

0 (0,0%)

0(0,0%)

10 (33,3%)

9 (30,0%)

11 (36,7%)

0 (0,0%)

Sumber : Data Primer, 2016

Tabel 1 menunjukkan bahwa sampel penelitian sebagian besar berjenis kelamin laki-laki, rerata umur subjek tertinggi pada kelompok intervensi yaitu 17,7 bulan, rerata panjang badan tertinggi berada pada kelompok kontrol yaitu 77,1 cm, rerata berat badan tertinggi pada kelompok kontrol yaitu 9,82 kg, rata-rata sampel merupakan anak ke dua, dan rerata frekuensi makan sekitar 2 kali sehari pada tiap kelompok. Untuk riwayat berat badan lahir, baik pada kelompok kontrol maupun perlakuan pada umumnya sampel lahir dengan berat badan dan tinggi badan normal.Untuk rerata jumlah anggota rumah tangga berkisar 5 orang, besar pendapatan orang tua dominan di atas Rp. 1.000.000,-, pekerjaan ayah umumnya bekerja sebagai buruh dan swasta, dan ibu umumnya bekerja sebagai ibu rumah tangga.

Berat Badan

Tabel 2. Perubahan Rerata Berat Badan Sampel pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol Sebelum dan Setelah Perlakuan

Kelompok

Berat Badan

(mean±SD)

p-

value

∆ Mean

p-value

Pre

Post

1

Post

2

Post

3

Post4

Post 5

Pre-Post I

Pre-

Post 2

Pre-Post 3

Pre-Post 4

Pre-

Post 5

Intervensi

(n=27)

           

0.00a

0.22 ± 0.30

0.32 ± 0.31

0.36 ± 0.30

0.41 ± 0.40

0.49 ± 0.41

 

Kontrol

(n =30)

           

0.00c

0.17 ± 0.25

0.14 ± 0.54

0.23 ± 0.50

0.34 ± 0.47

0.45 ± 0.57

 

p-value b

           

0.51

0.13

0.24

0.52

0.78

auji repeated anova, b uji T- Independent sampel, cUjiFriedman

Sumber : Data primer, 2016

            Pada tabel 2 menunjukkan bahwa rerata perubahan kenaikan berat badan sampel pada kelompok intervensi lebih tinggi dari pada kelompok kontrol yakni 0.49 kg, dan pada kedua kelompok terjadi kenaikan berat badan secara signifikan dengan nilai p=0.00 < 0.05.

PEMBAHASAN

Penelitian ini menunjukkan bahwa dari 27 sampel pada kelompok intervensi, setelah mendapatakan MP-ASI Baruasa selama 60 hari, menunjukkan hasil adanya peningkatan berat badan. Selisih kenaikan berat badan lebih tinggi pada kelompok intervensi yaitu sebesar 0.49 kg.

Hasil ini sejalan dengan penelitian di India bahwa pemberian suplementasi biskuit kentang kaya nutrisi berdampak baik dalam peningkatan berat badan anak(Balogun, 2013). Penelitian di Rwanda menemukan bahwa pemberian makanan tambahan dari kacang kedelai pada anak selama tiga bulan meningkatkan berat badan anak secara signifikan (Niyibituronsa et al., 2014). Hal yang sama juga ditemukan pada penelitian yang dilakukan oleh Ruwiah di Kendari pada tahun 2007 yang menunjukkan bahwa pemberian biskuit blondo dapat memperbaiki status gizi anak balita (Ruwiah, 2007). Demikian juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Sahlan pada tahun 2016 di Takalar yang menunjukkan bahwa terjadi kenaikan berat badan secara bermakna p<0.05, yakni p(0.00) setelah pemberian MP-ASI Ubi ungu dan ikan pari (Sahlan, 2016). Demikian halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Sulistyaningsih di Pontianak timur bahwa MP-ASI lokal dapat membantu peningkatan status gizi balita (Sulistyaningsih, 2012). Hal yang sama dengan penelitian di china bahwa MP-ASI berkontribusi pada peningkatan pertumbuhan bayi dan anak-anak di Cina (Chang et al., 2008). Namun berbeda dengan hasil penelitian tahun 2012 yang menunjukkan bahwa setelah mendapat MP-ASI sebanyak 87,8% baduta tidak mengalami kenaikan berat badan karena tidak patuh mengkonsumsi biskuit yang diberikan (Ciptaningtyas dkk., 2012)

Terjadinya peningkatan berat badan yang bermakna pada kelompok intervensi dapat disebabkan oleh pemberian MP-ASI Baruasa yang menyumbangkan energi sebesar 274.04 kkal, protein 2,31g, Karbohidrat 6,56 g dan lemak sebanyak 26,5g. Penambahan berat badan disebabkan karena adanya asupan makanan yang dikonsumsi oleh bayi. Hasil penelitian Susyanto & Indriastuti (2016), menyimpulkan bahwa makanan sehari-hari berhubungan signifikan dengan penambahan berat badan bayi.

Berbagai penelitian telah menunjukkan bukti terdapat hubungan antara pemberian MP-ASI dan Status gizi Anak diantaranya penelitian di Banyumas 2007 pemberian MP-ASI lokal mempengaruhi peningkatan berat badan, penelitian di Barru 2008 pemberian MP-ASI biskuit ikan teri dapat meningkatkan berat badan baduta, penelitian Semarang 2010 pemberian MP-ASI selama sebulan selama 1 bulan dapat meningkatkan status gizi berdasarkan skor-z indeks BB/U, penelitian Arumningtyas (2010) terdapat hubungan bermakna pemberian MP-ASI dengan perkembangan anak usia 6-24 bulan, penelitian Sulistyaningsih (2012) program MP-ASI lokal ini dapat membantu dalam peningkatan status gizi (Sulistyaningsih, 2012; Arumningtyas, 2010; Ariani, 2010; Affandi, 2008).

Kandungan gizi yang terkandung dalam MP-ASI Baruasa ini sangat bermanfaat dalam menjaga daya tahan tubuh anak sehingga tidak akan mudah sakit dan pertumbuhan dan perkembangannya tidak akan terganggu. Karena kurangnya jumlah makanan yang dikonsumsi baik secara kualitas maupun kuantitas dapat menurunkan status gizi. Anak yang makannya tidak cukup maka daya tahan tubuhnya pun akan melemah dan mudah terserang infeksi (Arnelia A & Matulessy, 1992). Hal ini sesuai dengan penelitian di India yang menunjukkan adanya pengaruh kumulatif dari infeksi yang di derita oleh seorang anak terhadap berat badan (Yasni dkk., 2009; Pratiwijaya, 2013; BI, 2010; Linder, 2010). Status gizi anak tidak hanya dipengaruhi dari jenis MP-ASI tetapi juga oleh frekuensi dan cara pemberian makanan yang baik(Lestari dkk., 2012; Sakti dkk., 2013).

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa pemberian MP-ASI Baruasa berdampak positif terhadap peningkatan berat badan anak usia 12-23 bulan. MP-ASI Baruasa dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif MP-ASI untuk intervensi gizi kurang.

DAFTAR PUSTAKA

Affandi.A. (2008). Pengaruh Pemberian MP-ASI Biskuit Ikan Teri Terhadap Pertumbuhan Baduta Gizi Kurang Di Kecamatan Tanete Rilau Kabupaten Barru Tahun 2008. Tesis Universitas Hasanuddin

Almatsier S. (2005). Prinsip Dasar Ilmu Gizi, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Ariani W. (2010). Pengaruh Pemberian Makanan Tambahan Lokal Terhadap Status Gizi Anak Balita Gizi Kurang Di Kelurahan Sambiroto Kecamatan Tembalang Kota Semarang.

Arnelia A. & Matulessy. (1992). Keragaman Anak Balita Pasca Pemulihan Gizi Buruk Jurnal Penelitian Gizi Dan Makanan.

Arumningtyas R. M. (2010). Hubungan Jenis Asupan Makanan Pendamping Asi Dominan Dengan Perkembangan Anak Usia 6-24 Bulan.

Balogun B. (2013). Comparative Evaluation Of Nutritive Value Of Pigeon Pea [Cajanus cajan (L.) Willsp.] And Cowpea [Vigna Unguiculala (L.) Walp].

BI. (2010). Pola Pembiayaan Usaha Kecil (PPUK) Komoditas Pengolahan Ikan Pari Asap. Jakarta: Direktorat Kredit, BPR Dan UMKMBiro Pengembangan BPR Dan UMKM.

Chang S.Y., Wu H., & Chun-Ming C. (2008). Complementary Feeding And Growth Of Infant And Young Child In China. Biomedical and Environmental Sciences, 21, 264-268.

Ciptaningtyas R., Sumantri A., & Ramadhan M. A. (2012). Evaluasi Berat Badan Tidak Naik pada Bayi di Bawah Dua Tahun Warga Miskin Setelah Pemberian MP-ASI. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, 7.

Hawkes C. et al. (2015). The Global Nutrition Report 2015: What We Need To Do To Advance Progress In Addressing Malnutrition In All Its Forms. Public Health Nutr, 18, 3067.

Ismail G. & Suffla S. (2013). Child Safety, Peace And Health Promotion, Child Malnutrition. South Africa: Mrc-Unisa Safety And Peace Promotion Research Unit.

Linder M. C. (2010). Biokimia Nutrisi Dan Metabolisme, Jakarta: Universitas Indonesia.

Lestari. Dkk. (2012). Hubungan Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) Dengan Status Gizi Anak Usia 1-3 Tahun Di Kota Padang Tahun 2012. Jurnal Kesehatan Andalas 3(2), 188-190.

Nasikhah R. & Margawati A. (2012). Faktor risiko kejadian stunting pada balita usia 24–36 Bulan di Kecamatan Semarang Timur. Diponegoro University.

Niyibituronsa M. et al. (2014). Improving The Nutritional Status Of Malnourished Children Using Soybean Products In Rwanda. African Journal of Food, Agriculture, Nutrition and Development, 14, 9136-9153.

Pagiu W. H. (2016). Pengembangan Pangan Lokal Ubi Jalar Ungu Dan Touge Kacang Hijau Sebagai MP-ASI. Tesis. Makassar: Universitas Hasanuddin.

Pratiwijaya E. F. (2013). Pemanfaatan Antioksidan Dan Betakaroten Ubi Jalar Ungu Pada Pembuatan Minuman Non-Beralkohol. Media Gizi Masyarakat Indonesia Vol.2, No 2, Februari 2013.

RAHAYU, L. S., SOFYANINGSIH, M. & HAMKA, M. P. D. Pengaruh BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) dan pemberian ASI eksklusif terhadap perubahan status stunting pada balita di Kota dan Kabupaten Tangerang Provinsi Banten. Prosiding Seminar Nasional Peran Masyarakat dalam Pencapaian MDG’s di Indonesia, 2011.

Riskesdas. (2013). Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013. In: Balitbangkes (Ed.).

Ruwiah. (2007). Pengaruh Pemberian Biskuit Limbah VCO Terhadap Pertumbuhan Balita Gizi Kurang di Kota Kendari Kecamatan Mandonga Sulawesi Tenggara. . Universitas Hasanuddin (Tesis)

Sahlan N. (2016). Pengaruh Pemberian MP ASI Ubi Ungu dan Ikan Pari Terhadap Status Gizi Bayi 6-12 Bulan di Kabupaten Takalar. (Tesis). Makassar:Universitas Hasanuddin.

Sakti R. Dkk. (2013). Hubungan Pola Pemberian MP-ASI Dengan Status Gizi Anak Usia 6-23 Bulan Di Wilayah Pesisir Kecamatan Tallo Kota Makassar Tahun 2013(Tesis). Makassar:Universitas Hasanuddin.

Septiari B. (2012). Mencetak Balita Cerdas Dan Pola Asuh Orang Tua, Yogyakarta, Nuha Medika.

Sulistyaningsih R. (2012). Evaluasi Program Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) Lokal Terhadap Perbaikan Status Gizi Balita Dikelurahan Saigon Dan Parit Mayor Kecamatan Pontianak Timur Tahun 2012.

Susyanto B.E. & Indriastuti P. (2016). Faktor-Faktor Maternal Yang Mempengaruhi Kenaikan Berat Badan Bayi. Jurnal Mutiara Medika, 7 , 95-104.

Yalew B. M. (2014). Prevalence Of Malnutrition And Associated Factors Among Children Age 6-59 Months At Lalibela Town Administration, North Wollozone, Anrs, Northern Ethiopia. J Nutr Disorders 4.

Yasni S. Dkk. (2009). Pemanfaatan Ubi Jalar Ungu Sebagai Bahan Produk Pangan Fungsional.

Search :

Ruang Chating

Log-in

Siapa Yang On-Line

We have 74 guests and no members online