You are here:Beranda arrow Artikel arrow Berita Umum arrow Coaching, Sebelas Kompetensi Coaching

Balai Besar Pelatihan Kesehatan

Coaching, Sebelas Kompetensi Coaching

Penyunting: dr. Surono

 

Penyunting terbiasa pascapelatihan, berkomunikasi dengan mantan peserta dan mengunjungi mereka di tempat kerja/organisasi. Tujuannya, terutama memberi dorongan dan dukungan pada mantan peserta dan organisasi agar menerapkan ketrampilan yang diperoleh dalam pelatihan semaksimal mungkin. Penyunting membuat catatan, mengunjungi organisasi, dan memberi umpan atau menerima umpan balik tumbuh terutama dari pengalaman penyunting magang dengan konsultan pada akhir 1980 – awal 1990an. Mereka, diantaranya adalah Prof. Ronny Lynton dan Prof. Udai Pareek. Mereka membantu mengenalkan dan menguasai ketrampilan berbagai metodologi dan pendekatan pengembangan sumber daya manusia dan organisasi, misalnya Penelitian dan Penulisan Kasus Manajemen, Analisis Tugas, Learning Group, dan lain-lain. Ketika beberapa waktu lalu, penyunting mengikuti International Coaching Week dan Indonesia Coaching Summit, yang diselenggarakan oleh International Coaching Federation, Jakarta Chapter, Indonesia, penyunting berkesimpulan ketrampilan coaching tak berbeda dengan ketrampilan yang penyunting dan rekan lain dapatkan di masa lalu dan kemudian sering dipraktekkan. Hal itu yang mendorong menyunting apa itu coaching sebagian dari sumber aslinya.

 

DEFINISI COACHING

Coaching adalah kemitraan (partnering) dengan coachee (pelanggan) dalam proses yang memprovokasi pemikiran kreatif yang menggugah atau menginspirasi coachee/s untuk memaksimalkan potensi personal dan potensi profesional.

 

Kerangka Kemampuan Coaching menurut International Coach Federation (ICF)

 

Penulis menyunting kembali dari bahan pelatihan “ACSTHC (Approved Coach Specific Training Hours), The Competent Coach Program” dari International Coach Federation khususnya tentang persyaratan kompetensi yang harus dimiliki minimal sebagai seorang Coach yang profesional.

 

Kompetensi tersebut meliputi :

 

1.    Melakukan coaching yang sesuai etika dan standard profesional,

2.    Menetapkan persetujuan coaching,

3.    Membangun kepercayaan (trust) dan keakraban (intimacy),

4.    Hadir selama proses coaching,

5.    Mendengarkan dengan aktif,

6.    Pertanyaan yang  kuat (powerful),

7.    Komunikasi langsung,

8.    Meciptakan kesadaran,

9.    Merancang tindakan.

10.  Menetapkan rencana dan  goal, dan

11.  Mengelola kemajuan dan tanggung jawab.

 

11 KOMPETENSI COACHING

Berikut ini pejelasan kesebelas kompetensi tersebut.

 

1.    MELAKUKAN COACHING YANG SESUAI ETIKA DAN STANDARD PROFESIONAL

 

Coach harus mampu

  • Memahami dan menampilkan perilaku yang sesuai standard ICF,
  •  Memahami dan mengikuti pedoman etika ICF,
  •  Mengkomunikasikan dengan jelas perbedaan penting antara coaching, konsultasi, psikoterapi, dan profesi dukungan yang lain,
  • Merujuk coache pada pihak profesional lain saat dibutuhkan.

 

Sebagai seorang coach, ia harus memahami dan menampilkan perilaku yang sesuai dengan etika. Seorang coach harus bisa menampilkan percakapan yang fokus, cermat, dan menggali. Percakapan pada topik yang lebih berbasis pada isue sekarang dan masa depan. Dalam percakapan, jika seorang coach hanya menitikberatkan pada mengajarkan sesuatu (telling) dan terutama bercakap tentang masa lalu – apalagi masalah emosional masa lalu (therapeutic mode), maka coach tersebut dinyatakan belum layak. Demikian pula jika coach secara eksklusif banyak memberikan nasehat dan misalnya jawaban seorang coach memberi indikasi apa yang harus dilakukan oleh coachee, maka coach tersebut dianggap belum layak. Seorang coach harus pula menjaga kepercayaan atau confidential dari coachee/s – tidak menceritakan apapun isi menjaga percakapan dengan orang lain tanpa ijin dari coachhe/s atau dan tidak mempunyai kepentingan pribadi (conflict interest) atau melibatkan dalam politik organisasi.

 

Dari awal, seperti hubungan bisnis atau hubungan sosial lain, dalam coaching sudah dituntut dan dibangun adanya kepercayaan (trust). Trust adalah dasar dari kerjasama dan saling ketergantungan.

 

 2.    MENETAPKAN PERSETUJUAN COACHING

 

Ada 3 (tiga) pihak dalam mendapatkan dan menetapkan persetujuan. Mereka itu adalah Coach, coachee, dan sponsor. Sponsor adalah organisasi yang meminta bantuan pada coach dan menyediakan fasilitas yang diperlukan. Tak jarang coachee juga sponsor. Coachee adalah orang yang mendapat coaching, dan coach adalah orang yang melakukan coaching pada coachee.

 

Coach harus mampu

ü  Memahami dan mendiskusikan secara efektif dengan coachee pedoman dan parameter spesifik dari hubungan kerja dalam coaching,

ü  Mencapai persetujuan apa yang dianggap memadai dan apa yang dianggap tak memadai, apa yang harus ditawarkan dan tidak ditawarkan tentang tanggung jawab coachee/s dan coache/s,

ü  Tentukan apakah ada kesesuaian antara metoda coaching dan kebutuhan dari coachee

 

 

3.    MEMBANGUN KEPERCAYAAN (TRUST) DAN KEAKRABAN (INTIMACY)

Mampu menciptakan suasana aman, rasa hormat dan percaya.

 

Coach harus mampu

ü  Menunjukkan kepedulian yang ikhlas terhadap kesejahteraan dan masa depan coachee,

ü  Memperlihatkan terus menerus integritas diri, kejujuran dan keiklasan,

ü  Mengembangkan persetujuan yang jelas dan jaga janji,

ü  Memperlihatkan rasa hormat atas persepsi coachee, gaya belajar, dan kepribadian yang dimiliki (personal being),

ü  Memberikan dukungan terus menerus untuk dan terhadap perilaku dan tindakan kampiun baru, termasuk mengambil risiko dan kekhawatiran atas kegagalan,

ü  Meminta ijin melakukan hal-hal yang sensitif dan area-area baru.

 

 

4.    HADIR SELAMA PROSES COACHING

Penuh kesadaran dan menciptakan hubungan spontan dengan coachee/s, menghadirkan gaya yang terbuka, luwes, dan percaya diri.

 

Coach harus mampu

ü  Hadir dan luwes selama proses coaching, dan luwes dengan waktu yang tersedia,

ü  Menilai intuisi sendiri dan mempercayai apa yang terasa dalam hati – “goes with the gut,”

ü  Terbuka untuk tidak (perlu) tahu dan mengambil risiko,

ü  Memperlihatkan banyak cara untuk bekerja dengan coachee, dan pilih pada saatnya cara yang paling efektif,

ü  Menggunakan humor dengan baik untuk menciptakan suasana kecerahan dan enerji,

ü  Mengalihkan pandangan dan melakukan percobaan secara mantap (confidently) dengan kemungkinan baru untuk tindakan coachee,

ü  Memperlihatkan percaya diri dalam bekerja (dengan emosi yang kuat), dan dapat mengelola sendiri, tidak berlebihan, dan tidak lemah dengan emosi coachee.

 
  5.    MENDENGAR AKTIF

Kemampuan mendengar apa yang coachee katakan dan tak dikatakan  dengan penuh perhatian, memahami makna apa yang dikatakan sesuai yang coachee inginkan, dan mendukung coachee mengungkapkan ungkapan diri.

 

 Coach harus mampu

ü  Hadir secara penuh dengan agenda coachee, bukan agendanya coach,

ü  Mendengar apa yang jadi perhatian, goal, nilai, dan keyakinan tentang apa yang mungkin dan tidak mungkin dari coachee,

ü  Membedakan antara kata-kata, nada suara, dan bahasa badan,

ü  Menyimpulkan, mengatakan dengan kalimat coach sendiri apa yang dijelaskan oleh coachee dan mengulang kembali apa yang dikatakan coachee untuk mendapatkan kejelasan,

ü  Memberi dorongan, menerima, menggali, dan menguatkan ungkapan perasaan, persepsi, perhatian, keyakinan, usul-usul, dan lain-lain,

ü  Memadukan dan membangun gagasan  dan usulan-usulan coachee,

ü  Menggarisbawahi atau memaahami inti dari komunikasi coachee dan membantu coachee memahami sendiri daripada memberi uraian cerita yang panjang,

ü  Membiarkan coachee mendapatkan kejelasan tanpa penilaian atau ketentuan dalam rangka coachee bergerak lebih lanjut.

     

 6.    BERTANYA YANG MEMPUNYAI KEKUATAN (POWERFUL)

 

Coach harus mampu :

ü  Menanyakan pertanyaan yang merefleksikan mendengar yang aktif dan mengenal pandangan coachee,

ü  Menanyakan pertanyaan untuk mendapatkan penemuan, pemahaman, komitmen, dan tindakan (misalnya tantangan terhadap asumsi dari coachee)

ü  Menanyakan pertanyaan terbuka – tertutup yang menciptakan  kejelasan, kemungkinan atau pembelajaran baru,

ü  Menanyakan pertanyaan yang membantu coachee menuju apa yang coachee maksud, bukan pertanyaan yang menilai apa yang terjadi di masa lalu.

 

 

7.     KOMUNIKASI LANGSUNG 

Kemampuan berkomunikasi secara efektif selama sesi coaching,  dan menggunakan bahasa yang mempunyai dampak positif pada coachee.

 

Coach harus mampu

 

ü  Berkomunikasi dengan jelas, terucap dan langsung dalam berbagi dan memberikan umpan balik,

ü  Membuat kembali kerangka, dan ucapkan untuk membantu coachee memahami dari pandangan berbeda apa yang apa yang coachee inginkan dan tidak yakin,

ü  Menyampaikan dengan jelas tujuan coaching, agenda pertemuan, maksud dari teknik atau kegiatan,

ü  Menggunakan bahasa yang baik dan menghargai pada coachee (misalnya tidak-sexist, tidak racist, tidak teknikal, tidak jargon),

ü  Menggunakan metaphor dan analog membantu menggambarkan gambaran secara verbal.

 

 

8.    MENCIPTAKAN KESADARAN 

Kemampuan untuk memadukan dan mengevaluasi dengan akurat berbagai sumber informasi, dan memberi penafsiran yang membantu coachee mendapatkan kesadaran dan bergairah mencapai hasil apa yang disepakati

 

Coach harus mampu

ü  Membantu keluar dari apa yang coachee katakan dalam menilai kepedulian coachee, tidak terjebak dengan uraian coachee,

ü  Menguatkan penelitian untuk mendapatkan pemahaman, kesadaran, dan kejelasan yang memadai,

ü  Mengenal apa yang menjadi dasar dari kepedulian coachee, persepsi yang tipikal dan cara yang sama terhadap dirinya (coachee) dan dunia sekitarnya, perbedaan antara fakta dan penafsiran, kesenjangan antara pemikiran, perasaan, dan tindakan,

ü  Membantu coachee mendapatkan untuk dirinya sendiri pemikiran-pemikiran baru, keyakinan, persepsi, emosi, suasana emosi, dan lain-lain yang menguatkan kemampuan coachee melakukan tindakan dan mencapai apa yang penting bagi coachee,

ü  Mengkomunikasikan pandangan yang lebih luas pada coachee yang menginspirasi (menggugah) untuk mengubah sudut pandang dan mendapatkan kemungkinan-kemungkian baru untuk tindakan,

ü  Membantu coachee melihat faktor-faktor yang berbeda dan berkaitan, yang mempengaruhi coachee dan perilakunya (misalnya emosi, pemikiran, latar belakang),

ü  Mengekspresikan pandangan (pemahaman) coach sendiri kepada coachee dengan cara yang baik dan memberi makna bagi coachee,

ü  Membantu mengenal kekuatan-kekuatan utama versus area pembelajaran dan pertumbuhan yang luas, dan apa yang paling penting harus ditangani,

ü  Membantu coachee membedakan hal-hal yang sepele dengan isue yang penting, situasi yang dihadapi versus perilaku sama yang berulang dilakukan, dan

ü  Membantu mendeteksi kesenjangan antara apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan.

 

9.    MERANCANG TINDAKAN

Kemampuan bersama coachee menciptakan peluang untuk belajar terus menerus selama sesi coaching (situasi pekerjaan – kehidupan), dan untuk mengambil tindakan-tindakan baru yang paling efektif menuju hasil yang disepakati.

 

Coach harus mampu

ü  Melakukan curah pendapat dan membantu coachee menentukan tindakan-tindakan yang memungkinkan coachee mendemonstrasikan, mempraktekkan, dan memperdalam pembelajaran,

ü  Membantu coachee memfokuskan dan menggali kepedulian (perhatian) dan peluang yang spesifik yang menuju pada goal yang disepakati,

ü  Mendorong coachee menggali gagasan dan pilihan solusi, menilai, dan membuat keputusan,

ü  Menggalakkan percobaan aktif dan penemuan sendiri (self discovery), dan akan melaksanakan apa yang telah didiskusikan dan dipelajari selama sesi-sesi sebelumnya di tempat kerja,

ü  Menghargai (merayakan) sukses dan kemampuan untuk berkembang ke depan,

ü  Memberi tantangan pada asumsi dan pandangan coachee yang memprovokasi ide baru untuk mendapatkan kemungkinan tindakan baru,

ü  Mengajukan sudut pandang yang berhubungan dengan goal coachee, dan tanpa mengikat, mendorong coachee untuk mempertimbangkan.

 

10.  MENETAPKAN RENCANA DAN GOAL

 

Kemampuan mengembangkan dan memelihara rencana coaching yang efektif sehinhha tindakan dan langkah yang telah ditetapkan harus dituangkan dalam rencana dan goal yang benar-benar dihayati oleh coachee.

 

Coach harus mampu

ü  Membantu mengkonsolidasikan informasi yang terkumpul menjadi rencana dan goal yang benar-benar menjadi perhatian dan area utama pembelajaran dan pengembangan,

ü  Mendorong terciptanya sebuah rencana dengan hasil yang bisa dicapai, terukur, spesifik, dan jelas waktu yang diperlukan,

ü  Melakukan penyesuaian atas rencana sesuai dengan kebutuhan selama sesi-sesi coaching dan perubahan situasi yang dihadapi,

ü  Membantu coachee mengenal dan akses pada sumberdaya yang tersedia dan berbeda,

ü  Membantu mengenal dan mententukan target untuk sukses awal yang penting bagi coachee.

 

11.  MENGELOLA KEMAJUAN DAN TANGGUNG JAWAB

Kemampuan menjaga perhatian atas apa yang penting bagi coachee, dan biarkan tanggung jawab tetap bersama coachee untuk mengambil tindakan.

 

Setelah memiliki rencana tindakan dan goal, saatnya coachee bertanggung jawab sepenuh hati atas rencana dan goal. Tidak jarang coachhe mengalami halangan selama perjalanan.

 

Coach harus mampu

ü  Mengajukan permintaan pada coachee tindakan-tindakan yang mengarah pada goal yang ditetapkan,

ü  Memperlihatkan tindak lanjut pada coachee dengan menanyakan tindakan-tindakan mana yang coachee benar-benar punya komitmen selama sesi-sesi sebelumnya,

ü  Mengakui apa yang telah coachee lakukan dan tidak dilakukan, belajar (menyadari) apa yang telah terjadi pada sesi-sesi sebelumnya,

ü  Membantu menyiapkan, mengorganisir, dan melakukan tinjauan secara efektif dari informasi yang diperoleh selama sesi-sesi sebelumnya,

ü  Menjaga coachee tetap dalam arah yang sesuai diantara sesi-sesi dengan cara memberi perhatian pada rencana dan goal/outcome, rangkaian tindakan yang disepakati, dan topik berikutnya,

ü  Membantu fokus pada rencana coaching tetapi juga terbuka untuk penyesuaian perilaku dan tindakan berdasar proses coaching dan perubahan selama sesi-sesi sebelumnya,

ü  Membantu mampu bergerak luwes diantara gambaran rencana besar (makro), tetapkan konteks apa yang sedang didiskusikan dan kemana ingin menuju,

ü  Mendorong coachee disiplin dan bertanggung jawab atas apa yang coachee katakan dan akan lakukan atas hasil yang  ingin dicapai atau atas rencana spesifik sesuai jadwal,

ü  Membantu mengembangkan kemampuan coachee dalam mengambil keputusan, mengutamakan yang penting, menerima umpan balik, dan menetapkan kecepatan pembelajaran, dan membantu merefleksikan,

ü  Konfrontasikan dengan positif atas fakta yang coachee tidak setuju untuk melakukan tindakan.

 

 
< Sebelumnya   Berikutnya >