:: SELAMAT DATANG DI BALAI BESAR PELATIHAN KESEHATAN (BBPK) MAKASSAR :: PENYELENGGARA DIKLAT BIDANG KESEHATAN BERKUALITAS SEBAGAI RUJUKAN DI INDONESIA TIMUR :: PELATIHAN ASUHAN IBU HAMIL (ANC TERPADU) DAN KELUARGA SEHAT YANG MENJADI PROGRAM UNGGULAN BALAI BESAR PELATIHAN KESEHATAN DI TAHUN 2017 ::

Sarana dan Prasarana

Jumlah Kunjungan

00344048
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Semua Hari
589
945
2638
315602
22862
61965
344048

Your IP: 54.81.78.135
2018-05-22 12:07

Malaria

Hubungan Perilaku Masyarakat terhadap Kejadian Malaria di Desa Bontosunggu Kabupaten Kepulauan Selayar

Penulis : Musni *)   Muhammad Hasan**)

*) Alumni FKM Universitas  Muslim  Makassar **)Widyaiswara BBPK Makassar

Hasan

 

Abstrak

Malaria merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh protozoa dari genus plasmodium yang ditularkan  melalui gigitan nyamuk Anopheles betina serta dapat juga ditularkan secara langsung  melalui transfusi darah, jarum suntik serta ibu hamil kepada bayinya. Terdapat  empat spesies Plasmodium yaitu  P. falcifarum, P. vivax, P. malariae, dan P.  ovale. Jenis penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan  cross sectional study. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui  hubungan antara kebiasaan keluar rumah, umur, pekerjaan, jenis kelamin, penggunaan kelambu, dan penggunaan obat nyamuk dengan kejadian malaria di  Desa Bontosunggu Kabupaten Kepulauan Selayar.Hasil penelitian  didapatkan ada hubungan yang bermakna antara umur dengan kejadian malaria.Ada hubungan yang bermakna antara pekerjaan dengan kejadian malaria.Ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan kejadian malaria.Ada hubungan yang bermakna antara penggunaan obat anti nyamuk dengan kejadian malaria

kata kunci: malaria, umur,pekerjaan,jeniskelamin,obat anti nyamuk

 

Pendahuluan

Penyakit malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh protozoa dari genus plasmodium dengan gambaran penyakit berupa demam yang sering periodik, anemia, pembesaran limpa dan berbagai kumpulan gejalah oleh karena pengaruhnya pada beberapa organ misalnya otak, hati dan ginjal (Hairul, 2006).

Malaria merupakan penyakit menular yang sangat dominan di daerah tropis dan sub-tropis dan dapat mematikan. Setidaknya 270 juta penduduk dunia menderita malaria dan lebih dari 2 miliar atau 42% penduduk bumi memiliki risiko terkena malaria. WHO mencatat setiap tahunnya tidak kurang dari 1 hingga 2 juta penduduk meninggal karena penyakit yang disebarluaskan nyamuk Anopheles (Harmendo, 2008).

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Selayar, pada tahun 2009, penderita malaria klinis berjumlah 2.951 kasus dan jumlah positif sebanyak 191 orang. Kasus tertinggi atau AMI terdapat di Wilayah Kerja Puskesmas Pasilambena (59,5 0/00), Pasimarannu (54,6 0/00), Lowa (37,4 0/00), dan Barugaia sebesar 32,2 per 1000 penduduk. Jumlah penderita malaria yang dikonfirmasi laboratorium dengan hasil positif atau API terbesar di Wilayah Kerja Puskesmas Buki (6,24), Barugaia (3,20), Pasimasunggu (2,75) dan Lowa sebesar 1,38 per 1000 penduduk (Profil Dinas Kesehatan Kab. Selayar, 2011).

Pada tahun 2010, penderita malaria klinis berjumlah 3.939 kasus atau 32,4 kasus per 1000 orang penduduk. Sementara, jumlah penderita positif malaria sendiri, mencapai angka 431 kasus atau 3,55 per 1000 orang penduduk. Kasus atau AMI tertinggi terdapat di Wilayah Kerja Puskesmas Lowa (60,51 0/00), Pasilambena (32,43 0/00), dan Buki  (41,05 0/00). Jumlah penderita malaria yang dikonfirmasi laboratorium dengan hasil positif atau API terbesar di Wilayah Kerja Puskesmas Lowa (17,27), Buki (5,15), dan Bontosikuyu 2,70 per 1000 penduduk (Profil Dinas Kesehatan Kab. Selayar, 2011).

Pada tahun 2011 angka malaria klinis berjumlah 2.540 kasus dan yang positif sebanyak 261 orang. Kasus atau AMI tertinggi terdapat di Wilayah Kerja Puskesmas Pasilambena (55,86 0/00), Lowa (37,94 0/00), Pasitallu (34,86) per 1000 penduduk. Jumlah penderita malaria yang dikonfirmasi laboratorium dengan hasil positif atau API terbesar di Wilayah Kerja Puskesmas Pasilambena (16,73 0/00), Pasitallu (15,07 0/00), dan Lowa sebesar 8,570/00 penduduk (Profil Dinas Kesehatan Kab. Selayar, 2011).

 

Metodologi

Jenis penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan  cross sectional study. Penelitian ini dimaksudkan untuk melihat hubungan antara umur, pekerjaan, jenis kelamin dan penggunaan obat nyamuk dengan kejadian malaria di  Desa Bontosunggu Kabupaten Kepulauan Selayar.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang ada di Desa Bontosunggu sebanyak 511 KK Kabupaten Kepulauan Selayar Provinsi Sulawesi Selatan.

Sampel pada penelitian ini adalah masyarakat yang ada di  Desa Bontosunggu sebanyak 219 KK Kabupaten Kepulauan Selayar.

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan metode non probability sampling yaitu Purposive Sampling, dimana pengambilan sampel didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri, berdasarkan ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya (Notoatmodjo, 2010).

Agar karakteristik sampel tidak menyimpang dari populasinya, maka sebelum dilakukan pengambilan sampel perlu ditentukan kriteria inklusi maupun kriteria eksklusi. Kriteria inklusi adalah kriteria atau ciri-ciri yang perlu dipenuhi oleh setiap anggota populasi yang dapat diambil sebagai sampel sedangkan kriteria eksklusi adalah ciri-ciri anggota populasi yang tidak dapat diambil sebagai sampel (Notoatmodjo, 2010).  Kriteria Inklusi adalah: Responden yang memeriksakan darahnya dan dinyatakan positif menderita malaria. Juga bersedia menjadi responden dan tempat tinggal penderita malaria positif mudah dijangkau.

Kriteria Eksklusi sebagai berikut; responden yang datang memeriksakan darahnya dan dinyatakan tidak menderita malariia, tidak bersedia menjadi responden dan tempat tinggal Penderita malaria positiif yang susah untuk di jangkau.

              N. . p.q

N =   

        . (N-1) + . p.q

Keterangan :

n = perkiraan sampel

N = perkiraan besar populasi

Z = nilai standar distribusi normal (1,96)

P = perkiraan proporsi variable peneliti (0,5)

d = tingkat kepercayaan yang digunakan (0,05)

q = 1-p = 1- 0,5

                  511. . (0,5).(0,5)

n = 

                 . (511-1)+ .(0,5).(0,5)

               1740.3,84.0,25

n =

           0,0025.510+3,84.0,25

n =   490,56

 

      1,275 + 0,96

n =     490,56

            2,235     

                n =    219 sampel

Data primer diperoleh dengan cara melakukan observasi dan wawancara langsung terhadap responden dengan menggunakan kuesioner.Data sekunder diperoleh dari instansi yang terkait di Puskesmas Bontosunggu Kabupaten Kepulauan Selayar.

Analisa yang dilakukan dalam penelitian ini dengan  Analisis univariat   dan Analisis Bivariat.  univariat dilakukan untuk mendeskripsikan variabel penelitian untuk mendapatakan gambaran umum dengan melihat distribusi frekuensi dalam bentuk tabel. Analisis Bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas ( independent ) dan variabel terikatnya ( dependent ).Pada penelitian ini menggunakan uji chi-square (X²) dan apabila terdapat kurang atau sama dengan 20 % sel yang bernilai lebih dari 20 % sel yang bernilai kurang dari 5. Analisis dilakukan dengan menguji hipotesis nol ( Ho ) pada tingkat kemaknaan alpa = 0,05 dengan interpretasi jika nila p < 0,05 maka analisis dikatakan bermakna antara variabel bebas dengan variabel terikat.

Data yang dikumpulkan, kemudian di olah dengan menggunakan pengolahan data (spss). Hasilnya di rangkum dalam bentuk tabel, diagram, grafik dan kemudian dipaparkan  secara deskriptif.

Hasil

Hubungan Umur Dengan Kejadian Malaria

   Tabel 1

   Hubungan Umur Dengan Kejadian Malaria Di Desa Bontosunggu Kabupaten Kepulauan Selayar

Tahun 2013

Umur

Kejadian Malaria

Total

%

P

(value)

Menderita

Tdk menderita

n

%

n

%

Muda

36

21,8

129

78,2

165

100

0,030

Tua

4

7,4

50

92,6

54

100

Total

40

18,3

179

81,7

219

100

 α = 0,05

           Sumber : Data Primer 2013

Berdasarkan tabel 1 hasil penelitian diperoleh umur muda dengan kejadian malaria yang menderita sebanyak 36 (21,8%) responden dari 165 (100%) responden umur muda, sedangkan umur tua dengan kejadian malaria yang menderita sebanyak 4 (7,4%) responden dari 54 (100%) responden umur tua.

Hasil uji statistik chi-square pada CI 95% diperoleh nilai p = 0,030 < 0,05, sehingga Ha diterima atau ada hubungan antara umur dengan kejadian malaria.

Hubungan Pekerjaan Dengan Kejadian Malaria

   Tabel 2

   Hubungan Pekerjaan Dengan Kejadian Malaria Di Desa Bontosunggu Kabupaten Kepulauan Selayar

Tahun 2013

Pekerjaan

Kejadian Malaria

Total

%

P

(value)

Menderita

Tdk menderita

n

%

N

%

Bekerja

31

27,9

80

72,1

111

100

0,000

Tidak Bekerja

9

8,3

99

91,7

108

100

Total

40

18,3

179

81,7

219

100

α = 0,05

Sumber : Data Primer 2013

Berdasarkan tabel 2 hasil penelitian diperoleh yang bekerja dengan kejadian malaria yang menderita sebanyak 31 (27,9%) responden dari 111 (100%) responden yang bekerja, sedangkan yang tidak bekerja dengan kejadian malaria sebanyak 9 (8,3%) responden dari 108 (100%) responden yang tidak bekerja.

Hasil uji statistik chi-square pada CI 95% diperoleh nilai p = 0,000 < 0,05, sehingga Ha di terima atau ada hubungan antara pekerjaan dengan kejadian malaria.

Hubungan Jenis Kelamin Dengan Kejadian Malaria

Tabel 3

Hubungan Jenis Kelamin Dengan Kejadian Malaria Di Desa Bontosunggu Kabupaten Kepulauan Selayar

Tahun 2013

Jenis Kelamin

Kejadian Malaria

Total

%

P

(Value)

Menderita

Tdk Menderita

n

%

n

%

Laki-Laki

19

28,8

47

71,2

66

100

0,014

Perempuan

21

13,7

  132

86,3

153

100

Total

40

18,3

179

81,7

219

100

α = 0,05

           Sumber : Data Primer 2013

Berdasarkan tabel 3 hasil penelitian diperoleh jenis kelamin laki-laki dengan kejadian malaria yang menderita sebanyak 19 (28,8%) responden dari 66 (100%) renponden laki-laki, sedangkan jenis kelamin perempuan dengan kejadian malaria yang menderita sebanyak 21 (13,7%) responden dari 153 (100%) responden perempuan.

Hasil uji statistik chi-squer pada CI 95% diperoleh nilai p = 0,014 < 0,05, sehingga Ha diterima atau ada hubungan yang antara jenis kelamin dengan kejadian malaria.

Hubungan Penggunaan Obat Anti Nyamuk Dengan Kejadian Malaria

Tabel 4

Hubungan  Penggunaan Obat Anti Nyamuk Dengan Kejadian Malaria Di Desa Bontosunggu Kabupaten Kepulauan Selayar

Tahun 2013

Penggunaan Obat Anti Nyamuk

Kejadian Malaria

Total

%

P

(Value)

Menderita

Tdk Menderita

n

%

n

%

Tidak menggunakan

28

23,7

91

76,3

119

100

0,040

Menggunakan

12

12,0

88

88,0

100

100

Total

40

18,3

179

81,7

219

100

α = 0,05

           Sumber : Data Primer 2013

Berdasarkan tabel 4 hasil penelitian diperoleh yang tidak menggunakan obat anti nyamuk dengan kejadian malaria yang menderita sebanyak 28 (23,7%) responden dari 119 (100%) responden yang tidak menggunakan obat anti nyamuk, sedangkan yang menggunakan obat anti nyamuk dengan kejadian malaria sebanyak 12 (12,0%) responden dari 100 (100%) responden yang menggunakan obat anti nyamuk.

Hasil uji statistik che-square pada CI 95% diperoleh nilai p = 0,040 < 0,05, sehingga Ha diterima atau ada hubungan antara penggunaan obat anti nyamuk dengan kejadian malaria.

Diskusi

Umur

Penyakit malaria pada umumnya dapat menyerang semua golongan umur, dan anak-anak lebih rentan terhadap infeksi parasit malaria. Namun bayi di daerah endemik malaria mendapat perlindungan antibodi maternal yang diperoleh secara transplasental. Telah diamati bahwa ada pengaruh spesies Plasmodium terhadap penyebaran malaria pada berbagai kelompok umur, yaitu : P. vivax lebih banyak dijumpai pada kelompok umur muda, kemudian diikuti oleh P. malaria dan P. falciparum.

Hasil statistik diperoleh nilai p = 0,030 < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima dengan interpretasi bahwa ada hubungan yang bermakna antara umur dengan kejadian malaria.

Hal ini dikarenakan Umur 0-45 pada usia muda merupakan prevalensi tertinggi kerkena malaria di bandingkan dengan umur > 45 tahun, dimana pada usia muda cenderung memiliki aktifitas yang tinggi terutama kegiatan di luar rumah, sehingga kemungkinan kontak dengan nyamuk lebih tinggi.

Penelitian ini sejalan dengan Wartika Syilviana Hasibuan (2009) di Klinik Malaria Rayon Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal yang menyatakan bahwa di atas 5-14 tahun lebih tinggi menderita penyakit malaria di bandingkan umur tua atau diperoleh nilai P = 0,001.

Pekerjaan

Pekerjaan dalam arti luas adalah aktivitas utama yang dilakukan oleh manusia. Dalam arti sempit, istilah pekerjaan digunakan untuk suatu tugas atau kerja yang menghasilkan uang bagi seseorang. Pekerjaan lebih banyak dilihat dari kemungkinan keterpaparan khusus dan derajat keterpaparan tersebut serta besarnya resiko menurut sifat pekerjaan juga akan berpengaruh pada lingkungan kerja dan sifat sosial ekonomi karyawan pada pekerjaan tertentu.

Hasil statistik diperoleh nilai p = 0,00 < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima dengan interpretasi bahwa ada hubungan yang bermakna antara pekerjaan dengan kejadian malaria.

Hal ini disebabkan karena mobilitas yang rendah. Perempuan lebih banyak berdiam di rumah sehingga kontak dengan nyamuk Anopheles sp lebih besar dan kemungkinan tidak menggunakan pakaian lengan panjang.

Hasil penelitian ini sejalan dengan Sori Muda Sirampeat, dkk (2008) di Kawasan Ekosistem Leuser Kabupaten Karo Provinsi Sumatera utara yang menyatakan bahwa ada hubungan antara pekerjaan dengan kejadian malaria atau diperoleh nilai p = 0,008.

Jenis kelamin

Infeksi malaria tidak membedakan jenis kelamin, perbedaan angka kesakitan malaria pada laki-laki dan perempuan dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain pekerjaan, pendidikan, migrasi penduduk dan kekebalan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perempuan mempunyai respons imun yang lebih kuat dibandingkan dengan laki-laki, namun kehamilan menambah risiko untuk terjadinya infeksi malaria

Hasil statistik diperoleh nilai p = 0,014 < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima dengan interpretasi bahwa ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan kejadian malaria.

Hal ini dikarenakan nyamuk anopheles sp tidak memilih untuk menggigit bila membutuhkan darah untuk bertelur dan berkembangbiak tanpa melihat jenis kelamin.

Hasil penelitian ini sejalan dengan Arsin, dkk (2007) yang menyatakan bahwa kasus malaria lebih banyak terjadi pada perempuan daripada laki-laki dengan nilai p = 0,032.

Penelitian ini di dukung oleh Akhmad Saikhu, dkk (2007) Analisis Lanjut Data Riset Kesehatan Dasar di Provinsi Sumatera Selatan yang menyatakan bahwa ada hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian malaria dengan nilai p = 0,004.

Penggunaan Obat Anti Nyamuk

Berbagai usaha yang dapat dilakukan untuk mengurangi kejadian malaria diantaranya yaitu dengan menggunakan obat anti nyamuk. Jenis dari obat anti nyamuk yang banyak  beredar dimasyarakat yaitu obat anti nyamuk bakar (Fumigan), obat anti nyamuk semprot (Aerosol),  obat anti nyamuk listrik (Electric) dan zat penolak nyamuk (Repellent).

Hasil statistik diperoleh nilai p = 0,040 < 0,05  maka Ho ditolak dan Ha diterima dengan interpretasi bahwa ada hubungan yang bermakna antara penggunaan obat anti nyamuk dengan kejadian malaria.

Hal ini dikarenakan berdasarkan hasil wawancara di lapangan, dimana responden biasanya menggunakan obat anti nyamuk bakar yang diletakkan di dalam kamar tidur. Sedangkan peluang terjadinya kontak antara nyamuk dengan orang sehat tidak hanya di dalam kamar tidur tetapi juga diruangan lain.

Hal ini dikarenakan  banyak responden yang tidak menyukai bau dari obat anti nyamuk, rumahnya terbakar, serta kurangnya pengetahuan responden tentang bahaya malaria sehingga menganggap bahwa malaria bukan penyakit yang berbahaya.

Simpulan

Ada hubungan yang bermakna antara umur dengan kejadian malaria. Ada hubungan yang bermakna antara pekerjaan dengan kejadian malaria.Ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan kejadian malaria. Ada hubungan yang bermakna antara penggunaan obat anti nyamuk dengan kejadian malaria.

Ucapan Terima kasih

Ucapan terima kasih kepada :

1.     Bapak Kepala Desa Bontosunggu Kabupaten Kepulauan Selayar

2.     Bapak Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

 

3.     Bapak Kepala Laboratorium Entomologi FK UNHAS

 

DAFTAR PUSTAKA

Dahlan, Sopiyudin. 2011. Statistik untuk Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta : Salemba Medika.

Daud, A., Anwar, dan Ruslan. 2003. Dasar-Dasar Kesehatan Lingkungan. Makassar : Jurusan Kesehatan Lingkungan FKM Unhas.

Darmadi. 2002. Hubungan Kondisi Fisik Rumah dan Lingkungan Sekitar Rumah serta Praktik Pencegahan dengan Kejadian Malaria di Desa Buaran Kecamatan Mayong Kabupaten Jepara. Semarang : FKM UNDIP.

Depkes R.I. 1983. Pemberantasan Malaria 2. Jakarta : Ditjen Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular.

Depkes R.I. 1999. Modul Epidemiologi Malaria 1. Jakarta : Ditjen PPM & PLP.

Depkes R.I. 2001. Pedoman Ekologi dan Aspek Perilaku Vektor. Jakarta : Ditjen PPM & PL.

Depkes R.I, 2003. Survei Dinamika Penularan Malaria. Jakarta : Ditjen PPM & PL.

Erdinal, dkk. 2006. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria di Kecamatan Kampar kiri Tengah Kabupaten Kampar tahun 2005-2006. MAKARA Kesehatan, Vol.10, No.2. (online), (http://repository.ui.ac.id/contents/koleksi/2/51b6c862124e72f9bcd6bb492059d6605b831d5f.pdf, diakses tanggal 20 Desember 2011).

Friaraiyatini, dkk. 2005. Pengaruh Lingkungan dan Perilaku Masyarakat terhadap Kejadian Malaria di Kabupaten Barito Selatan Provinsi Kalimantan Tengah. Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 2, No. 2 Januari 2006: 121-128. (online), (www.jurnal.unair.ac.id. diakses tanggal 20 Desember 2011)

Gandahusada, S. 2006. Parasitologi Kedokteran. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta : FK UI.

Harijanto. 2000. Malaria (Epidemiologi, patogenesis, Manifestasi Klinis, dan penanganan). Jakarta : Kedokteran EGC.

Harijanto, dkk. 2009. Malaria Dari Molekuler Ke Klinis. Jakarta : Kedokteran EGC.

Harmendo. 2008. Faktor Risiko Kejadian Malaria di Wilyah Kerja Puskesmas Kenanga Kecamatan Sungailiat Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. (Tesis Tidak Dipublikasikan). Semarang : Program Pasca sarjana Universitas Dipenogoro.

Hasan, Boesri., dkk. 1988. Respon Masyarakat terhadap Penggunaan Kelambu Berinsektisida dalam Rangka Pemberantasan Malaria di Desa Tarahan Lampung Selatan. Semarang : Majalah Kedokteran Diponegoro.

Husin, Hasan. 2007. Analisis Faktor Risiko Kejadian Malaria di Puskesmas Sukamerindu Kecamatan Sungai Serut Kota Bengkulu Propinsi Bengkulu. (Tesis Dipublikasikan). (http://eprints.undip.ac.id/17530/1/Hasan_Husin.pdf). Semarang : Program Pascasarjana Universitas Diponegoro.

Jambulingan, et.al. 2007. Insectisida treated mosquito nets for malaria control in India-experience from a tribal area on operational feasibility and uptake. Mem. Inst. Oswaldo Cruz vo. 103 no. 2. (online), (http://dx.doi.org/10.1590/S0074-02762008005000009. diakses tanggal 24 Desember 2011).

Achmadi, Umar. 2008. Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah, Seri Desentralisasi Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Universitas Indonesia.

Anies. 2006. Manajemen Berbasis Lingkungan – Solusi Mencegah dan Menanggulangi Penyakit Menular. Hal. 94,97-98. Jakarta : PT Elex Media Komputindo.

Arsin, Arsunan. 2004. Analisis Epidemiologi Terhadap Kejadian Malaria Pada Daerah Kepulauan di Kabupaten Pangkajene Kepulauan Propvinsi Sulawesi Selatan. (Disertasi tidak dipublikasikan) Makassar : Program Pascasarjana FKM Unhas

Basuki, B. 2000. Aplikasi Metode Kasus Kontrol. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Bradley, dkk. 1986. Bed-nets (Mosquito-Nets) and Morbidity From Malaria, Journal The Lancent, Volume 328, p.204-207. (online), (http://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736%2886%2992500-6/abstract, diakses tanggal 20 Desember 2011).

CDC. Life Cycle of The Malaria Parasite. (online) (http://www.encarta.msn.com), diakses tanggal 20 Desember 2011.

Kementrian Kesehatan R.I. 2011. Epidemiologi Malaria di Indonesia. (online),(http://www.depkes.go.id/downloads/publikasi/buletin/BULETIN%20MALARIA.pdf, diakses tanggal 10 Desember 2012).

Keputusan Menteri Kesehatan RepubIik Indonesia Nomor 293 tahun 2009. Tentang Program Eliminasi Malaria di Indonesia. Jakarta : Kementrian Kesehatan RI.

Kurniawan, Jeppry. 2008. Analisis Faktor Risiko Lingkungan dan Perilaku Terhadap Kejadian Malaria di Kabupaten Asmat Tahun 2008. (Tesis dipublikasikan). (http://eprints.undip.ac.id/8857/). Semarang : Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro.

Lukwa N, Chiwade T. 2008. Lack of insecticidal effect of mosquito coils containing either metofluthrin or esbiothrin on Anopheles gambiae sensu lato mosquitoes. Trop Biomed,25(3):191-5. (online), (http://www.msptm.org/files/191_-_195_Nzira_Lukwa.pdf, diakses tanggal 24 Desember 2011).

Loka Litbang P2B2  Ciamis. 2006. Laporan Hasil Survey Entomology Pasca Tsunami di Pesisir Pantai Selatan Kabupaten Ciamis. Pangandaran: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan RI.

Margono, SS. 2003. Parasitologi Kedokteran. Jakarta : CV Gaya Baru.

Mukono, MJ., 2002. Epidemiologi Lingkungan, cetakan I. Surabaya : Airlangga.

Munif, Amrul dan Imron, Moch. 2010. Panduan Pengamatan Nyamuk Vektor Malaria. Jakarta : CV Sagung Seto,.

Muslim, M., 2009. Parasitologi Untuk Keperawatan. Hal 58-59. Jakarta : Kedokteran EGC

Natadisastra, dkk., 2009. Parasitologi Kedokteran: Ditinjau dari Organ Tubuh yang diserang. Hal. 214-216. Jakarta : Kedokteran EGC.

Notoatmojo, S., 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan, Edisi Revisi. Jakarta : Rineka Cipta.

NSW Arbovirus Surveilance & Vector Monitoring Program. 2011. (online) (http://www.arbovirus.health.nsw.gov.au/mosquit/photos/mosquitophotos_anopheles.htm), diakses tanggal 20 Desember 2011.

Ntonifor, Nelson N, et.al. (2006). Environmental Factors Affecting Malaria Parasite Prevalence in Rural Bolifamba, South-West Cameroon. Afircan Journal of Health Sciences, Vol. 13, No. 1-2 January-June 2006. (Online) (http://www.bioline.org.br/pdf?jh06007, diakses 12 April 2012).

 

Pendahuluan

Penyakit malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh protozoa dari genus plasmodium dengan gambaran penyakit berupa demam yang sering periodik, anemia, pembesaran limpa dan berbagai kumpulan gejalah oleh karena pengaruhnya pada beberapa organ misalnya otak, hati dan ginjal (Hairul, 2006).

Malaria merupakan penyakit menular yang sangat dominan di daerah tropis dan sub-tropis dan dapat mematikan. Setidaknya 270 juta penduduk dunia menderita malaria dan lebih dari 2 miliar atau 42% penduduk bumi memiliki risiko terkena malaria. WHO mencatat setiap tahunnya tidak kurang dari 1 hingga 2 juta penduduk meninggal karena penyakit yang disebarluaskan nyamuk Anopheles (Harmendo, 2008).

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Selayar, pada tahun 2009, penderita malaria klinis berjumlah 2.951 kasus dan jumlah positif sebanyak 191 orang. Kasus tertinggi atau AMI terdapat di Wilayah Kerja Puskesmas Pasilambena (59,5 0/00), Pasimarannu (54,6 0/00), Lowa (37,4 0/00), dan Barugaia sebesar 32,2 per 1000 penduduk. Jumlah penderita malaria yang dikonfirmasi laboratorium dengan hasil positif atau API terbesar di Wilayah Kerja Puskesmas Buki (6,24), Barugaia (3,20), Pasimasunggu (2,75) dan Lowa sebesar 1,38 per 1000 penduduk (Profil Dinas Kesehatan Kab. Selayar, 2011).

Pada tahun 2010, penderita malaria klinis berjumlah 3.939 kasus atau 32,4 kasus per 1000 orang penduduk. Sementara, jumlah penderita positif malaria sendiri, mencapai angka 431 kasus atau 3,55 per 1000 orang penduduk. Kasus atau AMI tertinggi terdapat di Wilayah Kerja Puskesmas Lowa (60,51 0/00), Pasilambena (32,43 0/00), dan Buki  (41,05 0/00). Jumlah penderita malaria yang dikonfirmasi laboratorium dengan hasil positif atau API terbesar di Wilayah Kerja Puskesmas Lowa (17,27), Buki (5,15), dan Bontosikuyu 2,70 per 1000 penduduk (Profil Dinas Kesehatan Kab. Selayar, 2011).

Pada tahun 2011 angka malaria klinis berjumlah 2.540 kasus dan yang positif sebanyak 261 orang. Kasus atau AMI tertinggi terdapat di Wilayah Kerja Puskesmas Pasilambena (55,86 0/00), Lowa (37,94 0/00), Pasitallu (34,86) per 1000 penduduk. Jumlah penderita malaria yang dikonfirmasi laboratorium dengan hasil positif atau API terbesar di Wilayah Kerja Puskesmas Pasilambena (16,73 0/00), Pasitallu (15,07 0/00), dan Lowa sebesar 8,570/00 penduduk (Profil Dinas Kesehatan Kab. Selayar, 2011).

Metodologi

Jenis penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan  cross sectional study. Penelitian ini dimaksudkan untuk melihat hubungan antara umur, pekerjaan, jenis kelamin dan penggunaan obat nyamuk dengan kejadian malaria di Desa Bontosunggu Kabupaten Kepulauan Selayar.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang ada di Desa Bontosunggu sebanyak 511 KK Kabupaten Kepulauan Selayar Provinsi Sulawesi Selatan.

Sampel pada penelitian ini adalah masyarakat yang ada di Desa Bontosunggu sebanyak 219 KK Kabupaten Kepulauan Selayar.

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan metode non probability sampling yaitu Purposive Sampling, dimana pengambilan sampel didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri, berdasarkan ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya (Notoatmodjo, 2010).

Agar karakteristik sampel tidak menyimpang dari populasinya, maka sebelum dilakukan pengambilan sampel perlu ditentukan kriteria inklusi maupun kriteria eksklusi. Kriteria inklusi adalah kriteria atau ciri-ciri yang perlu dipenuhi oleh setiap anggota populasi yang dapat diambil sebagai sampel sedangkan kriteria eksklusi adalah ciri-ciri anggota populasi yang tidak dapat diambil sebagai sampel (Notoatmodjo, 2010). Kriteria Inklusi adalah: Responden yang memeriksakan darahnya dan dinyatakan positif menderita malaria. Juga bersedia menjadi responden dan tempat tinggal penderita malaria positif mudah dijangkau.

Kriteria Eksklusi sebagai berikut; responden yang datang memeriksakan darahnya dan dinyatakan tidak menderita malariia, tidak bersedia menjadi responden dan tempat tinggal Penderita malaria positiif yang susah untuk di jangkau.

              N. . p.q

N =   

        . (N-1) + . p.q

Keterangan :

n = perkiraan sampel

N = perkiraan besar populasi

Z = nilai standar distribusi normal (1,96)

P = perkiraan proporsi variable peneliti (0,5)

d = tingkat kepercayaan yang digunakan (0,05)

q = 1-p = 1- 0,5

                  511. . (0,5).(0,5)

n = 

                 . (511-1)+ .(0,5).(0,5)

               1740.3,84.0,25

n =

           0,0025.510+3,84.0,25

n =   490,56

 

      1,275 + 0,96

n =     490,56

            2,235     

               n =   219 sampel

Data primer diperoleh dengan cara melakukan observasi dan wawancara langsung terhadap responden dengan menggunakan kuesioner.Data sekunder diperoleh dari instansi yang terkait di Puskesmas Bontosunggu Kabupaten Kepulauan Selayar.

Analisa yang dilakukan dalam penelitian ini dengan  Analisis univariat   dan Analisis Bivariat. univariat dilakukan untuk mendeskripsikan variabel penelitian untuk mendapatakan gambaran umum dengan melihat distribusi frekuensi dalam bentuk tabel. Analisis Bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas ( independent ) dan variabel terikatnya ( dependent ).Pada penelitian ini menggunakan uji chi-square (X²) dan apabila terdapat kurang atau sama dengan 20 % sel yang bernilai lebih dari 20 % sel yang bernilai kurang dari 5. Analisis dilakukan dengan menguji hipotesis nol ( Ho ) pada tingkat kemaknaan alpa = 0,05 dengan interpretasi jika nila p < 0,05 maka analisis dikatakan bermakna antara variabel bebas dengan variabel terikat.

Data yang dikumpulkan, kemudian di olah dengan menggunakan pengolahan data (spss). Hasilnya di rangkum dalam bentuk tabel, diagram, grafik dan kemudian dipaparkan  secara deskriptif.

Hasil

Hubungan Umur Dengan Kejadian Malaria

   Tabel 1

   Hubungan Umur Dengan Kejadian Malaria Di Desa Bontosunggu Kabupaten Kepulauan Selayar

Tahun 2013

Umur

Kejadian Malaria

Total

%

P

(value)

Menderita

Tdk menderita

n

%

n

%

Muda

36

21,8

129

78,2

165

100

0,030

Tua

4

7,4

50

92,6

54

100

Total

40

18,3

179

81,7

219

100

α = 0,05

           Sumber : Data Primer 2013

Berdasarkan tabel 1 hasil penelitian diperoleh umur muda dengan kejadian malaria yang menderita sebanyak 36 (21,8%) responden dari 165 (100%) responden umur muda, sedangkan umur tua dengan kejadian malaria yang menderita sebanyak 4 (7,4%) responden dari 54 (100%) responden umur tua.

Hasil uji statistik chi-square pada CI 95% diperoleh nilai p = 0,030 < 0,05, sehingga Ha diterima atau ada hubungan antara umur dengan kejadian malaria.

Hubungan Pekerjaan Dengan Kejadian Malaria

   Tabel 2

   Hubungan Pekerjaan Dengan Kejadian Malaria Di Desa Bontosunggu Kabupaten Kepulauan Selayar

Tahun 2013

Pekerjaan

Kejadian Malaria

Total

%

P

(value)

Menderita

Tdk menderita

n

%

N

%

Bekerja

31

27,9

80

72,1

111

100

0,000

Tidak Bekerja

9

8,3

99

91,7

108

100

Total

40

18,3

179

81,7

219

100

α = 0,05

Sumber : Data Primer 2013

Berdasarkan tabel 2 hasil penelitian diperoleh yang bekerja dengan kejadian malaria yang menderita sebanyak 31 (27,9%) responden dari 111 (100%) responden yang bekerja, sedangkan yang tidak bekerja dengan kejadian malaria sebanyak 9 (8,3%) responden dari 108 (100%) responden yang tidak bekerja.

Hasil uji statistik chi-square pada CI 95% diperoleh nilai p = 0,000 < 0,05, sehingga Ha di terima atau ada hubungan antara pekerjaan dengan kejadian malaria.

Hubungan Jenis Kelamin Dengan Kejadian Malaria

Tabel 3

Hubungan Jenis Kelamin Dengan Kejadian Malaria Di Desa Bontosunggu Kabupaten Kepulauan Selayar

Tahun 2013

Jenis Kelamin

Kejadian Malaria

Total

%

P

(Value)

Menderita

Tdk Menderita

n

%

n

%

Laki-Laki

19

28,8

47

71,2

66

100

0,014

Perempuan

21

13,7

  132

86,3

153

100

Total

40

18,3

179

81,7

219

100

α = 0,05

          Sumber : Data Primer 2013

Berdasarkan tabel 3 hasil penelitian diperoleh jenis kelamin laki-laki dengan kejadian malaria yang menderita sebanyak 19 (28,8%) responden dari 66 (100%) renponden laki-laki, sedangkan jenis kelamin perempuan dengan kejadian malaria yang menderita sebanyak 21 (13,7%) responden dari 153 (100%) responden perempuan.

Hasil uji statistik chi-squer pada CI 95% diperoleh nilai p = 0,014 < 0,05, sehingga Ha diterima atau ada hubungan yang antara jenis kelamin dengan kejadian malaria.

Hubungan Penggunaan Obat Anti Nyamuk Dengan Kejadian Malaria

Tabel 4

Hubungan  Penggunaan Obat Anti Nyamuk Dengan Kejadian Malaria Di Desa Bontosunggu Kabupaten Kepulauan Selayar

Tahun 2013

Penggunaan Obat Anti Nyamuk

Kejadian Malaria

Total

%

P

(Value)

Menderita

Tdk Menderita

n

%

n

%

Tidak menggunakan

28

23,7

91

76,3

119

100

0,040

Menggunakan

12

12,0

88

88,0

100

100

Total

40

18,3

179

81,7

219

100

α = 0,05

           Sumber : Data Primer 2013

Berdasarkan tabel 4 hasil penelitian diperoleh yang tidak menggunakan obat anti nyamuk dengan kejadian malaria yang menderita sebanyak 28 (23,7%) responden dari 119 (100%) responden yang tidak menggunakan obat anti nyamuk, sedangkan yang menggunakan obat anti nyamuk dengan kejadian malaria sebanyak 12 (12,0%) responden dari 100 (100%) responden yang menggunakan obat anti nyamuk.

Hasil uji statistik che-square pada CI 95% diperoleh nilai p = 0,040 < 0,05, sehingga Ha diterima atau ada hubungan antara penggunaan obat anti nyamuk dengan kejadian malaria.

Diskusi

Umur

Penyakit malaria pada umumnya dapat menyerang semua golongan umur, dan anak-anak lebih rentan terhadap infeksi parasit malaria. Namun bayi di daerah endemik malaria mendapat perlindungan antibodi maternal yang diperoleh secara transplasental. Telah diamati bahwa ada pengaruh spesies Plasmodium terhadap penyebaran malaria pada berbagai kelompok umur, yaitu : P. vivax lebih banyak dijumpai pada kelompok umur muda, kemudian diikuti oleh P. malaria dan P. falciparum.

Hasil statistik diperoleh nilai p = 0,030 < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima dengan interpretasi bahwa ada hubungan yang bermakna antara umur dengan kejadian malaria.

Hal ini dikarenakan Umur 0-45 pada usia muda merupakan prevalensi tertinggi kerkena malaria di bandingkan dengan umur > 45 tahun, dimana pada usia muda cenderung memiliki aktifitas yang tinggi terutama kegiatan di luar rumah, sehingga kemungkinan kontak dengan nyamuk lebih tinggi.

Penelitian ini sejalan dengan Wartika Syilviana Hasibuan (2009) di Klinik Malaria Rayon Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal yang menyatakan bahwa di atas 5-14 tahun lebih tinggi menderita penyakit malaria di bandingkan umur tua atau diperoleh nilai P = 0,001.

Pekerjaan

Pekerjaan dalam arti luas adalah aktivitas utama yang dilakukan oleh manusia. Dalam arti sempit, istilah pekerjaan digunakan untuk suatu tugas atau kerja yang menghasilkan uang bagi seseorang. Pekerjaan lebih banyak dilihat dari kemungkinan keterpaparan khusus dan derajat keterpaparan tersebut serta besarnya resiko menurut sifat pekerjaan juga akan berpengaruh pada lingkungan kerja dan sifat sosial ekonomi karyawan pada pekerjaan tertentu.

Hasil statistik diperoleh nilai p = 0,00 < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima dengan interpretasi bahwa ada hubungan yang bermakna antara pekerjaan dengan kejadian malaria.

Hal ini disebabkan karena mobilitas yang rendah. Perempuan lebih banyak berdiam di rumah sehingga kontak dengan nyamuk Anopheles sp lebih besar dan kemungkinan tidak menggunakan pakaian lengan panjang.

Hasil penelitian ini sejalan dengan Sori Muda Sirampeat, dkk (2008) di Kawasan Ekosistem Leuser Kabupaten Karo Provinsi Sumatera utara yang menyatakan bahwa ada hubungan antara pekerjaan dengan kejadian malaria atau diperoleh nilai p = 0,008.

Jenis kelamin

Infeksi malaria tidak membedakan jenis kelamin, perbedaan angka kesakitan malaria pada laki-laki dan perempuan dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain pekerjaan, pendidikan, migrasi penduduk dan kekebalan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perempuan mempunyai respons imun yang lebih kuat dibandingkan dengan laki-laki, namun kehamilan menambah risiko untuk terjadinya infeksi malaria

Hasil statistik diperoleh nilai p = 0,014 < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima dengan interpretasi bahwa ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan kejadian malaria.

Hal ini dikarenakan nyamuk anopheles sp tidak memilih untuk menggigit bila membutuhkan darah untuk bertelur dan berkembangbiak tanpa melihat jenis kelamin.

Hasil penelitian ini sejalan dengan Arsin, dkk (2007) yang menyatakan bahwa kasus malaria lebih banyak terjadi pada perempuan daripada laki-laki dengan nilai p = 0,032.

Penelitian ini di dukung oleh Akhmad Saikhu, dkk (2007) Analisis Lanjut Data Riset Kesehatan Dasar di Provinsi Sumatera Selatan yang menyatakan bahwa ada hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian malaria dengan nilai p = 0,004.

Penggunaan Obat Anti Nyamuk

Berbagai usaha yang dapat dilakukan untuk mengurangi kejadian malaria diantaranya yaitu dengan menggunakan obat anti nyamuk. Jenis dari obat anti nyamuk yang banyak  beredar dimasyarakat yaitu obat anti nyamuk bakar (Fumigan), obat anti nyamuk semprot (Aerosol),  obat anti nyamuk listrik (Electric) dan zat penolak nyamuk (Repellent).

Hasil statistik diperoleh nilai p = 0,040 < 0,05  maka Ho ditolak dan Ha diterima dengan interpretasi bahwa ada hubungan yang bermakna antara penggunaan obat anti nyamuk dengan kejadian malaria.

Hal ini dikarenakan berdasarkan hasil wawancara di lapangan, dimana responden biasanya menggunakan obat anti nyamuk bakar yang diletakkan di dalam kamar tidur. Sedangkan peluang terjadinya kontak antara nyamuk dengan orang sehat tidak hanya di dalam kamar tidur tetapi juga diruangan lain.

Hal ini dikarenakan banyak responden yang tidak menyukai bau dari obat anti nyamuk, rumahnya terbakar, serta kurangnya pengetahuan responden tentang bahaya malaria sehingga menganggap bahwa malaria bukan penyakit yang berbahaya.

Simpulan

Ada hubungan yang bermakna antara umur dengan kejadian malaria. Ada hubungan yang bermakna antara pekerjaan dengan kejadian malaria.Ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan kejadian malaria. Ada hubungan yang bermakna antara penggunaan obat anti nyamuk dengan kejadian malaria.

Ucapan Terimakasih

Ucapan terimakasih kepada:

1.     Bapak Kepala Desa Bontosunggu Kabupaten Kepulauan Selayar

2.     Bapak Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

3.     Bapak Kepala Laboratorium Entomologi FK UNHAS

Search :

Ruang Chating

Sambutan Ka. BBPK