Harta88 crystal slot

Model Dukungan Sosial Teman Kerja dan Tempat Kerja terhadap Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu Bekerja di Makassar

Model Dukungan Sosial Teman Kerja dan Tempat Kerja terhadap Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu Bekerja di Makassar

Oleh : dr. Fadlyah Mulia, M.K.M

Abstrak

Latar Belakang: Bekerja masih menjadi salah satu tantangan yang cukup signifikan dan mempengaruhi pemberian ASI eksklusif. Dukungan sosial yang memadai akan berdampak pada keberhasilan pemberian ASI eksklusif, khususnya pada ibu bekerja. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk dukungan sosial dan menyusun rancangan model dukungan sosial dalam pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja di Wilayah Kerja Puskesmas Kassi-Kassi Makassar.

Metode: Penelitan menggunakan metode campuran (mixed methods) yang menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif dengan desain sekuensial eksplanatori. Populasinya yaitu semua ibu bekerja yang memiliki bayi usia 6-24 bulan. Sampel terdiri dari 25 ibu bekerja yang memberikan ASI eksklusif (kelompok kasus) dan 26 ibu bekerja yang tidak memberikan ASI eksklusif (kelompok kontrol). Informan yaitu ibu bekerja yang memberikan ASI eksklusif, tenaga kesehatan dan kader puskesmas.

Hasil: Ada pengaruh signifikan antara dukungan sosial teman kerja (p=0,010) dan tempat kerja (p=0,002) terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja. Hasil analisis multivariat dengan uji regresi logistik menunjukkan model kuantitatif dalam pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja yaitu f(z)=1/1+e-(2.237+(0.202) dukungan teman kerja+(-2.005) dukungan tempat kerja).

Kesimpulan: Dukungan teman kerja dan tempat kerja berpengaruh terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja. Pemberian ASI eksklusif kepada bayi dapat tetap dilakukan secara langsung (direct breastfeeding) atau dengan memerah ASI. Model dukungan sosial dalam pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja yaitu dukungan informasi dan instrumental dari teman kerja dan dukungan instrumental dari tempat kerja.

LATAR BELAKANG

Deklarasi Innocenti (1990) yang telah dicetuskan oleh WHO mencakup pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan, namun ternyata pencapaiannya masih di bawah target global yaitu 41% (1). Tidak berbeda dengan di Indonesia yang bahkan baru mencapai 37,3% pada tahun 2018 (2), sementara di Provinsi Sulawesi Selatan, persentase bayi yang mendapat ASI eksklusif tahun 2018 sebesar 42,13% (3). Sedangkan di Kota Makassar cakupan pemberian ASI eksklusif mengalami peningkatan pada tahun 2018 menjadi 70,4%, setelah sebelumnya pada tahun 2017 sebesar 67,09% (4),(5).

Seiring dengan meningkatnya partisipasi wanita dalam dunia kerja, maka bekerja dianggap sebagai tantangan besar dalam praktik pemberian ASI eksklusif (6),(7). Dari data statistik diperoleh bahwa sekitar 38,5% perempuan Indonesia memilih untuk bekerja dengan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) sebesar 45,62% (8). Tetapi, hal ini belum diimbangi dengan peningkatan upaya perusahaan dalam menyukseskan pemberian ASI eksklusif, misalnya dengan menyediakan fasilitas ruang memerah ASI yang memadai di tempat kerja atau kesempatan bagi ibu menyusui di tempat kerja (9). Banyak faktor yang mempengaruhi suksesnya pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja, di antaranya dukungan sosial dari berbagai pihak (7),(9),(10). Ibu yang memberikan ASI eksklusif cenderung lebih banyak menerima dukungan sosial dari orang-orang terdekat seperti suami, orang tua dan pengasuh (11). Pengetahuan dan komitmen kuat serta dukungan sosial yang memadai dari keluarga, tempat kerja serta teman kerja juga menentukan keberhasilan ASI eksklusif pada ibu yang bekerja di sektor formal dan meninggalkan bayinya di rumah (12),(13),(14),(15).

Pada hakikatnya tidak ada ibu yang gagal dalam menyusui, yang gagal adalah sistem pendukungnya (dukungan sosial) (13). Bentuk dukungan sosial dapat berupa dukungan emosional, instrumental, informasi dan penilaian/penghargaan (5),(15). Dukungan keluarga dan tempat kerja telah disebutkan dalam berbagai peraturan pemerintah, namun belum tersedia suatu model atau indikator pelaksanaannya, khususnya pada ibu bekerja.

METODE

Penelitian ini merupakan jenis observasional analitik dengan desain studi kasus-kontrol untuk menganalisis pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah pemberian ASI eksklusif, sedangkan variabel independen adalah dukungan sosial suami, orang tua, teman kerja dan tempat kerja.

Jenis data dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer dikumpulkan dari kuesioner yang berisi pertanyaan terkait dukungan sosial yang ibu dapatkan dalam pemberian ASI eksklusif meliputi dukungan sosial suami, orang tua, teman kerja dan tempat kerja. Data sekunder diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Makassar dan Puskesmas Kassi-Kassi Makassar.

HASIL

Ibu yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak menerima dukungan dari teman kerja yaitu 71,4% dan dukungan dari tempat kerja yaitu 72%. Hasil uji statistik untuk dukungan teman kerja diperoleh nilai p = 0,010 dan untuk dukungan tempat kerja diperoleh nilai p = 0,002 yang berarti ada pengaruh yang signifikan antara dukungan teman kerja dan tempat kerja dengan pemberian ASI Eksklusif.

Hasil analisis multivariat dengan uji regresi logistik diperoleh model pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja dengan persamaan : f(z)=1/1+e-(2.237+(0.202)dukungan teman kerja+(-2.005) dukungan tempat kerja).

 

 

PEMBAHASAN

Dari hasil wawancara mendalam diperoleh bahwa mayoritas ibu mendapatkan dukungan informasi dan instrumental dari teman kerja dan dukungan instrumental dari tempat kerja selama berada di kantor. Adanya teman kerja sekantor yang juga menyusui menjadi teman bercerita saat waktu memerah ASI. Jika ada kendala seputar ASI, maka teman kerja sering menjadi tempat meminta solusi. Studi yang dilakukan Ernawati (2014) pada PNS di Jawa Tengah menunjukkan dukungan teman kantor antara lain diskusi tentang permasalahan menyusui dan mengizinkan ruangan tempat kerjanya dipinjam untuk memerah ASI (12). Studi kualitatif yang dilakukan Desmond (2016) menemukan bahwa adanya stigma negatif dari teman kerja dapat menghambat pemberian ASI eksklusif di tempat kerja. Sementara dukungan tempat kerja dapat berupa penyediaan ruang laktasi yang memadai untuk menyusui atau memerah ASI dan memberi waktu untuk memerah ASI di antara waktu kerja. Ibu yang tidak memerah ASI diizinkan untuk pulang menyusui di waktu istirahat karena jarak rumah yang cukup dekat. Yimyam (2014) menemukan bahwa dukungan menyusui di tempat kerja tidak hanya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu dalam bekerja, tetapi juga meningkatkan kondisi dan lingkungan kerja untuk memfasilitasi ibu bekerja dan melanjutkan praktik pemberian ASI eksklusif (20).

Model dukungan sosial terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja secara kuantitaif ditujukkan oleh persamaan pemodelan multivariat menggunakani uji regresi logistik metode backward wald. Dukungan sosial teman kerja meliputi dukungan informasi dan instrumental dan dukungan sosial tempat kerja, meliputi dukungan instrumental.

KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial suami, orang tua, teman kerja dan tempat kerja berpengaruh terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja. Dukungan sosial antara lain dalam bentuk dukungan informasi, instrumental, emosional dan penilaian. Suami, orang tua, teman kerja dan tempat kerja masing-masing memiliki bentuk dukungan yang berbeda-beda terhadap ibu bekerja namun saling melengkapi.

Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi referensi dalam merancang program kelas ayah atau kelas suami dengan menekankan pada edukasi dukungan sosial untuk menunjang keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Selain itu, diharapkan pula setiap tempat kerja atau instansi perkantoran menyediakan ruang laktasi yang kondusif dan memenuni standar minimal yang ada dalam Permenkes No.15 Tahun 2013.

 

 

REFERENSI

  1. WHO, 2019. Global Breastfeeding Scorecard 2019.
  2. Kementerian Kesehatan, 2018. Hasil Utama Riskesdas 2018, Jakarta: Kementerian Kesehatan.
  3. Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, 2019. Profil Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan Tahun 2018,
  4. Dinas Kesehatan Kota Makassar, 2019. Profil Kesehatan Kota Makassar Tahun 2018,
  5. Taiyeb, A. M. D., 2017. Dukungan sosial dalam pemberian ASI eksklusif di Kota Makassar (studi kasus pada komunitas AIMI Sulsel). Makassar: Tesis.
  6. Kementerian Kesehatan, 2010. Strategi Peningkatan Makanan Bayi dan Anak.
  7. Kurniawan, B., 2013. Determinan keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Jurnal Kedokteran Brawijaya, 27(4), pp. 236-240.
  8. BPS, 2015. Statistik Pemuda Indonesia 2014, Jakarta: Badan Pusat Statistik.
  9. Listyaningrum, T. U. & Vidayanti, V., 2016. Tingkat Pengetahuan dan Motivasi Ibu Berhubungan dengan Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu Bekerja. Jurnal Ners dan Kebidanan Indonesia, 4(2), pp. 55-62.
  10. Tadesse, F. e. a., 2019. Exclusive breastfeeding and maternal employment among mothers of infants from three to five months old in the Fafan zone, Somali regional state of Ethiopia: a comparative cross-sectional study. BMC Public Health, 19(1015), pp. 1-9.
  11. Sari, S. N., 2014. Dukubgan Sosial kepada Ibu Bayi dalam Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Pancoran Mas Kota Depok Tahun 2014. Jakarta: Universitas Indonesia.
  12. Ernawati, A., 2014. Pengetahuan, Komitmen, dan Dukungan Sosial dalam Pemberian Asi Eksklusif pada Pegawai Negeri Sipil. Jurnal Litbang, 10(1), pp. 64-73.
  13. Rollins, N. C. et al., 2016. Why invest, and what it will take to improve breastfeeding practices?. The Lancet, 387(10017), pp. 491-504.
  14. Danso, J., 2014. Examining the Practice of Exclusive Breastfeeding among Professional Working Mothers in Kumasi Metropolis of Ghana. International Journal of Nursing, 1(1).
  15. Boateng, G. O. et al., 2018. Measuring exclusive breastfeeding social support: Scale development and validation in Uganda. Maternal and Child Nutrition, 14(3).
  16. Mawaddah, S., Barlianto, W. & Nurdiana, 2018. Pengetahuan ibu, dukungan sosial, dan dukungan tenaga kesehatan terhadap keputusan memberikan ASI eksklusif. Indonesian Journal of Human Nutrition , 5(2), pp. 85-95.
  17. Thet, M. e. a., 2016. Barriers to exclusive breastfeeding in the Ayeyarwaddy Region in Myanmar: Qualitative findings from mothers, grandmothers, and husbands. Appetite, Volume 96, pp. 62-69.
  18. Oktalina, O. e. a., 2015. Hubungan Dukungan Suami dan Dukungan Keluarga dengan Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu Anggota Kelompok Pendukung ASI (KP-ASI). Media Gizi Indonesia, 10(1), pp. 64-70.
  19. Desmond, D. d. S. M., 2016. A qualitative study investigating the barriers to returning to work for breastfeeding mothers in Ireland. International Breastfeeding Journal, 11(16).
  20. Yimyam, S. d. W. H., 2014. Developing a workplace breast feeding support model for employed lactating mothers.. Midwifery Journal, 30(6), pp. 720-724.

Leave a Reply